Tuesday, 25 November 2014

Catatan Perjalanan Bromo dan Madakaripura



Sudah begitu lama saya ingin ke gunung Bromo untuk melihat matahari terbit dari puncak gunung Bromo. Dan akhirnya kesempatan itu datang ketika ada ajakan ke Gunung Bromo dari club pecinta alam.

Dan pada saat hari yg dinantikan datang, jam 19.00 kami berkumpul di pasar Festival, Jakarta Selatan untuk berangkat ke Bromo dengan bus sewaan. Perjalanan memakan waktu yang cukup lama, hampir 14 jam, karena ada masalah dengan Lumpur Lapindo pada waktu itu di Porong Sidoarjo, Yang membuat kami harus menuju kearah lain lewat Probolinggo. Akhirnya kami sampai juga di Cemara Lawang, hotel dimana kami menginap pada jam 10 malam.
Setelah makan malam kami semua langsung tertidur lelap dan tanpa sadar tiba-tiba ada ketukan di pintu… Rupanya morning call jam 3 subuh untuk bersiap-siap menuju ke bukit Penanjakan, di mana kami akan melihat pemandangan matahari terbit dari balik awan diatas gunung Bromo. Kami telah bersiap di dalam hardtop dan tepat jam 3.30 kami berangkat. 



 Gunung Bromo, Batok dan Semeru

 
Perjalanan yang kami lalui sangat menantang karena saya merasakan banyak goncangan hebat dan seakan kami ini sedang berlomba dalam off road show…..dengan bapak supir yang handal tentunya!!
Setelah melewati goncangan demi goncangan tibalah kami di parkiran mobil, dan kami bukanlah yang pertama tiba di sana, tetapi sudah begitu banyak hardtop-hardtop yang terparkir. Ketika kami keluar dari mobil, udara dingin langsung menyerbu, untung kita telah diperingatkan harus memakai baju hangat 2 lapis, topi, sarung tangan dan tidak ketinggalan sang kamera tercinta. Kami lalu berjalan kaki menuju ke atas puncak bukit Penanjakan dengan jarak yang cukup jauh dengan jalan yang menanjak….dan tibalah kami di tujuan, tempat untuk melihat sang surya mengintip dari balik awan.

Detik demi detik penantian sang surya muncul akhirnya dimulai, ketika titik pertama keluar….klik,klik,klik, srret,srret…rupanya semua orang mengarahkan kamera, handycam baik perorangan ataupun dari stasiun tv untuk meliput momen yang berharga ini, yang sering disebut golden moment. Dari hanya satu titik warna orange di balik awan, lama-lama menjadi besar dan berubah warna semakin orange dan mulai kuning dan akhirnya menjadi putih kekuningan….sungguh luar biasa perubahan warna ini…..
Dan ketika saya menoleh ke kanan di sana telah menunggu pemandangan gunung Bromo, gunung Batok, dan gunung Semeru yang sebentar-sebentar batuk asap, yang merupakan rangkain 3 gunung berjejer yang mengagumkan dengan kabut yang menutupi kaki gunung Bromo. Perasaan membawa kita seakan-akan diatas awan yg begitu indah. Dan sebaris lagu tergiang di telinga ………….. Negeri di awan dari Katon Bagaskara.



 Selfie dulu sebelum jalan


 
Setelah beberapa jam di atas bukit Penanjakan, lalu kamipun kembali ke hardtop untuk menuju ke gunung Bromo. Dan kembali kami lalui jalan yang penuh goncangan lalu melewati padang pasir caldera…. Akhirnya kami sampai di parkiran mobil dan kami memutuskan untuk menyewa kuda hingga sampai ke kaki Bromo. Dan dari sana kami melanjutkan dengan naik tangga yang berjumlah 135 anak tangga hingga tiba di bibir kawah Bromo. 



 Perjalanan yg cukup menantang



Tangga menuju ke puncak Bromo



Begitu saya sampai di atas…pemandangan yang disuguhkan sungguh luar biasa, kawah yang dipenuhi asap belerang dan gunung yang masih aktif….serta pemandangan jauh di padang pasir caldera ada sebuah pura Hindu, mayoritas penduduk Tengger Caldera adalah Hindu yang sama dengan di Bali. Dan setiap tahun mereka selalu ada perayaan Kasodo, yaitu perayaan mempersembahkan makanan, sayuran serta buah-buahan ke kawah Bromo, di mana legenda menceritakan tentang legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Selama bertahun-tahun mereka tidak dikarunia anak dan akhirnya mereka memohon di gunung Bromo meminta anak kepada dewa, dan mereka di beri 12 anak, dengan catatan mereka harus mempersembahkan anak termuda mereka ke kawah Bromo, maka setiap tahun selalu di peringati perayaan Kasodo ini.



 Mencoba berjalan jalan setapak dengan kiri kanan tebing



 Pemandangan padang pasir Caldera dgn kuilnya



Setelah itu kamipun kembali ke hotel, makan siang dan bersiap-siap menuju ke air terjun Madakaripura yang terletak di Desa Sapeh, kecamatan Lumbang, kabupaten probolinggo. Setelah 45 menit perjalanan, kamipun sampai di parkiran, dan perjalanan kami diteruskan dengan berjalan kaki dengan jarak sekitar 1 km. Dan kami melewati jalan setapak yang sebagian sudah di cor dan beberapa bagian rusak karena banjir, medan yang harus kami lewati cukup susah, tetapi ketika hampir sampai, dari jauh saya sudah bisa melihat keindahan air terjun ini.
Air terjun Madakaripura adalah salah satu air terjun di kawasan taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ketinggian air terjuan ini sekitar 200 m dan berbentuk curuk yang dikelilingi tebing-tebing yang menjulang tinggi, dengan tetesan air pada setiap bagian tebing seperti layaknya hujan, dan tiga diantaranya mengucur deras membentuk air terjun kembali. Untuk bisa mencapai hingga dibawah air terjun, kami harus melewati sungai kecil dengan bebatuan yang licin, walau cukup sulit tetapi keindahan dan gemuruh dari air terjun ini sungguh spektakuler.



Beberapa baris Air terjun



 Air terjun tunggal



 Sungai kecil dengan bebatuan yg licin



 Patung Gajahmada


Adapun Nama Madakaripura berarti 'tempat terakhir', dimana konon patih Gajahmada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di lokasi air terjun ini, di dalam sebuah goa pada air terjun utama. Itulah kenapa terdapat sebuah patung Gajahmada di tempat parkiran. Meski tidak ada bukti sejarah yang tertinggal (selain patung buatan masyarakat setempat) di tempat itu, dan hanya keyakinan masyarakat setempat yang menjadi dasar.

Setelah puas mengagumi air terjun ini, kamipun kembali ke parkiran dan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta. Sungguh Indonesia mempunyai banyak alam yang indah dan kebudayaan yang sangat beragam….. Tidaklah salah dikatakan "Jamrud Khatulistiwa". 

Wednesday, 19 November 2014

Sedikit Catatan dari Phuket




Pemandangan dari Kata view point


Phuket merupakan sebuah pulau bagian tenggara Thailand, dengan luas seukuran negara Singapura yaitu sekitar 576 km persegi, menjadikan Phuket sebagai pulau terbesar di Thailand. Perjalanan saya ke Phuket, adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan dengan teman-teman yang terdiri dari 2 pria dan 4 wanita. Penerbangan dari jakarta ke Phuket memakan waktu 5 jam. Setelah sampai di bandara international Phuket, begitu kaki kami melangkah keluar dari pesawat, hawa panas langsung menyerang, dikarenakan daerah ini dikelilingi oleh laut... jadi kamipun berjalan cepat menuju ke imigrasi, dan saya melihat para staf imigrasi memakai kaos seperti di pantai, dan pelayanan mereka yang penuh senyuman dan sambutan yang hangat, sungguh suatu keramahan yang patut diacungin jempol sebagai daya tarik bagi wisatawan. Dan setelah selesai urusan imigrasi , maka kamipun keluar mencari bus jemputan diantara para jemputan hotel lainnya... dan voila! Itu dia... Jadi kamipun melompat masuk dengan senangnya dan memulai perjalanan kami untuk menjelajahi Phuket...


 penyewaan perahu di pantai Patong


Sunset di pantai Patong

 
Hari pertama perjalanan kami dimulai dengan menjelajahi pantai Patong, pantai pasir putih nan bersih, yang beberapa tahun lalu dilanda badai tsunami, tetapi tidak terlihat sama sekali bahwa pantai ini pernah hancur berantakan karena tsunami. Dan disepanjang pantai Patong begitu banyak tawaran paket tour ke pulau Phi Phi dengan berbagai variasi harga. Lalu kamipun ikut salah satu paket tour ke Ko Phi Phi (pulau Phi Phi), dimana pulau ini terkenal karena film “The Beach”, yang dibintangi Ronaldo DiCaprio. Terdapat 2 pulau Phi Phi yaitu Phi Phi Don dan Phi Phi leh. Ketika perahu kami hampir sampai, dari jauh saya melihat pemandangan pulau-pulau kecil yang bertebaran di lautan yang biru, dengan tebing-tebingnya yang curam nan indah. Makin mendekat ke pulau Phi Phi, makin terlihat keindahan pulau ini, dan kamipun turun ke pantai dan mengelilingi pulau ini. Pulau kecil nan indah, tenang dengan air laut yang jernih dan pasir putihnya. Dan saya tidak tahan untuk tidak berenang di air yang begitu jernih ini, dan sayapun dapat memberi makan ikan-ikan yang berenang di sekitar saya, sungguh pengalaman yang menarik. Begitu jernihnya air laut di pulau ini, sehingga saya dapat melihat terumbu karang dan binatang laut tanpa harus menyelam. Setelah selesai bermain di pulau ini, kamipun kembali ke Pantai Patong dan menuju ke Hotel yang terletak di jalan Bhang-La. yang adalah pusat kehidupan malam di Phuket, sepanjang kiri kanan jalanan ini penuh dengan cafe-cafe dan pub, music yang keras, dengan lampu-lampu yang beraneka warna serta tidak ketinggalan dengan para pelayannya yang sexy. Ah.... sungguh suatu kehidupan yang tidak pernah tidur bagi pelancong yang berlibur ke sini. 



 Bhang-la Road



Setelah selesai berganti, kamipun keluar mencari makan malam serta berkeliling di sepanjang jalan ini. Dan kami memutuskan untuk mencoba makanan seafood khas Thailand, dan beberapa makanan seperti Curried prawns, Hoi Thot Hokkian (omelet kerang), spicy red curry shrimp, serta tom yam dengan kuah asam pedasnya. Ketika sambil makan ada tawaran untuk menonton Simon cabaret show, dan kamipun menerima tawaran itu. Tempat pertunjukkan terletak di sebuah theater yang lumayan besar. pertunjukkan yang disajikan berupa tarian dan nyanyain dalam bahasa Inggris. Dan para pemainnya benar-benar cantik dengan balutan baju nan sexy, tetapi jangan mengira itu adalah wanita sejati, mereka adalah para transexual yang cantik-cantik. Setelah selesai pertunjukkan para pemainnya berdiri di depan pintu keluar menyambut para penonton yang ingin berfoto bersama, tetapi hati-hati menerima tawaran ini, karena setelah berfoto merekapun akan meminta bayaran foto bersamanya... sungguh suatu trik yang jitu. Setelah itu kamipun pulang ke hotel dan beristirahat untuk melanjutkan penjelajahan keesokan harinya. 



 Pantai Karon


Pada hari kedua ini kami menuju ke pantai Karon, lalu lanjut ke pantai Kata, pantai yang tenang dengan pasir putih serta laut yang tenang. Pantai kata terdiri dari 2 pantai yang dipisah satu sama lainnya oleh sebuah tanjung kecil. Jalan-jalan di pantai-pantai Phuket serasa saya berada di Bali, dengan suasana yang sama.
Setelah puas menikmati pantai-pantai dengan pasir putihnya, kitapun melanjutkan perjalanan menuju ke candi Wat Chalong, dan tidak lupa mampir di puncak bukit Kata view point, untuk melihat panorama pantai Karon dan Kata. Dan di view point ini kita juga melihat atraksi burung elang dan kita dapat mencoba memegang dan menerbangkannya dengan bayaran harga tertentu pastinya.








 
Setelah itu kitapun lanjut ke canti Wat Chalong, candi yang terindah dan terkenal di Phuket.Wat Chalong adalah kuil Buddha paling penting di Phuket. Wat Chalong terletak di Tambol Chalong (atau Kecamatan Chalong) di Distrik Mueang Phuket. Kuil ini didedikasikan untuk dua biksu, Pho Chaem dan asistennya Luang Pho Chuang, keduanya memiliki peran penting dalam memadamkan pemberontakan pada tahun 1876. Setelah selesai berkunjung ke candi Wat Chalong, kamipun melanjutkan perjalanan ke arah pantai Phrom Thep Cape untuk elephan tracking. 



Candi Wat Chalong



 elephan tracking




Mencoba Jet-ski

 
Setelah selesai elephan trecking kami kembali ke pantai Patong dan mencoba tawaran jet-ski sebelum kembali ke hotel, di pantai ini banyak ditawarkan aktifitas air, seperti banana boat, jet-ski, parasailing, dan penyewaan perahu super cepat. Setelah puas bermain jet-ski, kamipun kembali ke hotel dan tidak lupa mencoba Thai massage dan diakhiri dengan makan malam sebelum akhirnya kami terbang ke Singapura esok harinya. 

Oh iya selama kami jalan-jalan dari satu tempat ke tempat lainnya di Phuket, kita menggunakan tuk-tuk yang sejenis angkot kalau di Jakarta, tawarlah harga sebelum menaiki kendaraan ini. Tuk-tuk atau taksi jenis ini adalah kendaraan biasa yang digunakan warga Phuket untuk mengangkut penumpang. Taksi jenis ini tidak menggunakan meteran, melainkan menggunakan harga yang dapat dinegosiasi terlebih dahulu sebelum keberangkatan. Sering kali harga yang ditawarkan cukup mahal, bahkan lebih mahal dari menaiki tuk-tuk yang 3 roda, sejenis bajaj, namun kendaraan yang digunakan biasanya lebih nyaman dari tuk-tuk 3 roda.



 Tuk-tuk




Sunday, 9 November 2014

Pesona Musim Gugur




 Penduduk sedang memanen anggur untuk dijadikan wine


Musim gugur sudah kembali menyapa di Eropa, dan bagi saya ini musim gugur yang ke sekian kalinya, dan selama musim gugur datang, saya tidak pernah bosan mengagumi keindahan alam dengan perubahan warnanya yang indah ini.



Alat yg sudah tidak terpakai lagi, untuk memeras anggur menjadi jus 






Hutan kecil dimana saya suka pungut buah cemara



Kota Sancerre, Perancis







Perkebunan anggur











Wednesday, 5 November 2014

Sisi Lain Kota Paris




Kota Paris, kata ini selalu identik dengan "kota romantis", "kota mode", banyak pasangan melangsungkan pernikahan ataupun bulan madu di kota yang penuh cahaya ini. Dan juga tidak sedikit para pelancong yang berdatangan ke kota ini hanya untuk berbelanja, baik baju, tas, sepatu ataupun lainnya, (baca juga Surga Belanja di Paris)
Begitu juga dengan saya, sejak awal pertama kali tiba di Paris. Aura romantisme, aura shopping dan segala aura bercampur satu. 

Sayangnya, Paris yang gemerlap dan banyak menggoda wisatawan ini semakin tidak aman, karena makin merajalelanya para copet dan penipu. Sayapun pernah mengalami 2 kali hampir kecopetan didalam metro. Dan sayapun pernah menyaksikan seseorang di copet di parkiran, dan terjadi kejar-kejaran antara pencopet dan korban. Dan kebanyakan pencopetan terjadi di metro, dengan modus yang hampir sama, dan biasanya para pencopet terdiri dari 2-4 orang, dan mereka akan berdesak-desakkan ketika masuk metro dan menggencet si korban, lalu salah satu pencopet akan mengambil barang dalam tas atau bahkan tasnya si korban, setelah berhasil mereka akan keluar dari pemberhentian metro berikutnya, ataupun keluar di saat itu juga dan lari sekencang-kencang.

Cara lain untuk mendapatkan uang atau barang korban adalah dengan tanda tangan petisi, kelihatannya seperti petisi untuk kemanusiaan, seperti membantu kemiskinan di Afrika, atau anak-anak miskin dan lain-lain. Dan biasanya mereka akan memulai percakapan dengan, "Do you speak English?".
Bagi yang tidak mengerti, mereka akan terharu dan terpanggil untuk mengisi petisi tersebut, tetapi akhirnya mereka diminta uang sumbangan dengat agak memaksa, atau bahkan bila para penipu ini tahu dimana letak dompet korban, maka mereka akan mengambilnya secara diam-diam tanpa disadari si korban.

Para pencopet dan penipu ini bekerja sangat rapi dan terorganisir, dan rata-rata mereka berwajah Eropa Timur dengan umur sekitar 12-20 tahunan, dan bahkan ada yang ibu-ibu juga. Banyak turis yang menjadi target para pencopet ini, terutama turis dari Asia, dikarenakan kebanyakan turis tidak mengerti bahwa kota Paris sudah tidak seaman seperti yang ditawarkan oleh banyak tour wisata. Dan para pencopet yang masih anak-anak ini melakukan aksinya di antrian yang panjang seperti di menara Eiffel, katedral Notre Dame, antrian masuk ke musem Louvre dan bahkan di sepanjang jalan Champs-Elisees. Atau bahkan baru keluar dari pusat perbelanjaan.

Khusus bagi mereka yang akan melancong ke Paris, saya memberikan beberapa tips, agar liburan anda indah dan terhindar dari pengalaman buruk. Tips ini berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman para travelers. Bukannya saya mau menakuti ya, tetapi sebaikinya waspada, demi keamanan selama liburan.

  1. Bila membawa tas punggung, selalulah gantungkan tas di depan dada, selain aman dalam genggaman tangan juga lebih praktis bila ingin mengambil sesuatu dr dlm tas. Dan kurasa hal ini sudah tidak aneh lagi bagi yang terbiasa hidup di jakarta. Dan bagi yang membawa tas tangan sebaiknya yang memakai resleting dan dengan tali supaya bisa digantung menimpang di depan dada.
  2. Selalu ada beberapa dompet yang terpisah, dompet kecil untuk uang receh, kartu kredit dan ATM di dompet terpisah, SIM, KTP dan uang kertas di dompet lainnya. Memang kelihatannya agak repot, tetapi daripada mendapat pengalaman buruk seperti yang pernah terjadi pada saya ketika berlibur di Malaysia, semua kartu, uang, surat penting bahkan tiket pesawat hilang di maling orang. 
     
  3. Selalu foto copy semua surat-surat penting, dan menyimpan yang asli kepada petugas hotel, dan kita hanya membawa yang foto copy saja. Jangan lupa selalu ada buku kecil untuk mencatat semua alamat dan telepon penting, salah satunya KBRI setempat.
  4. Siapkan satu tas kecil untuk peta jalan, buku wisata, tiket metro, dll yang akan selalu kita keluarkan selama wisata.
  5. Bagi mereka yang tidak bisa lepas gadge, terutama gadge terbaru, seperti iphone, sebaiknya jangan terlalu diperlihatkan, karena ini sangat menarik bagi pencopet dan bahkan mereka akan terang-terangan mengambil dengan paksa. Dan bila senang dengan pemotretan, jangan memotret dalam kerumunan, bila hal itu tidak memungkinkan sebaiknya tetap waspada dan tas berada depan dada.
  6. Para pencopet dan penipu sangat senang dengan rombongan turis, terutama turis dari Asia. Bila ada anak-anak remaja yang meminta-minta atau diminta menanda tangani petisi, sebaiknya menolak dengan tegas, yang biasanya selalu dimulai dengan, "Do you speak English?".
     
  7. Sebaiknya bagi yang senang shopping, harap membawa tas besar dengan resleting, sehingga semua belanjaan dapat disatukan dalam satu tas saja, tanpa membawa banyak kantong di tangan kiri dan kanan.
  8. Dalam metro adalah daerah yang paling rawan, bila akan masuk metro selalu awasi disekeliling kita apakah ada kelompok yang kurang nyaman atau mencurigakan. Dan bila kita terdesak jangan segan untuk pindah dan biasanya para pencopet ini tidak memberi jalan dan malah semakin mendesak, jangan ragu untuk berteriak protes dan dorong menjauh. Bahkan mereka sangat ahli mencopet dengan mengambil barang dalam tas yang sudah diletakkan di depan dada. Jadi tetap jeli walau tas sudah depan dada dan dalam genggaman tangan juga. Satu pengalaman saya, tas sudah di dada, tetapi seorang ibu dengan menutupi aksinya dengan selendang, tangannya masuk ke tas saya, dan sayapun menjambak tangannya dan teriak marah kepadanya.

Masih banyak cara lainnya yang bisa dilakukan untuk menghindari musibah selama berlibur. Saya rasa, teman-teman lebih jago dalam mempraktekkannya. Beberapa tips tadi sudah bertahun-tahun saya terapkan, baik dalam bepergian sendiri maupun berlibur bersama keluarga, semoga ini dapat membantu teman-teman yang berlibur ke kota-kota besar di Eropa.


Happy Traveling.... 

Tuesday, 4 November 2014

Tergoda di Kota Sejuta Cahaya



Pemandangan Eiffel dari Trocadero


Menyebut negara Prancis dan kota Paris, maka kata 'romantisme' langsung muncul didalam pikiran. Paris adalah ibukota Perancis (saya rasa semua juga tahu). Ia juga dikatakan sebagai kota romantis...(Terutama ketika dengan kekasih Anda), dan Perancis adalah bahasa cinta (mmmm... Je T'aime). Dengan begitu banyak cinta di sekitar, saya tidak pernah bosan kembali ke kota yang indah ini lagi dan lagi. Kota ini dibelah oleh aliran sungai Seine dengan delta atau pulau kecil bernama L'ile Saint Louis di utara Perancis, dan lokasinya yang strategis membuatnya menjadi salah satu kota utama di Eropa, dan salah satu kota wisata yang terkenal.

Ketika pertama kali saya sampai di kota ini di bulan November yang dingin, kota ini begitu menggoda saya. Dengan suasana kota yang berkilau, berpakaian dalam sejuta peri lampu mewah. Lampu-lampu jalanan yang temaram, cuaca dingin yang menyejukkan membuat suasana romantisme menjalar dalam denyut kota sejuta cahaya ini, dan jangan takut kedinginan karena suasana hati akan menghangatkan segalanya. Begitu banyak hal yang ditawarkan di kota sejuta cahaya ini, harus dimulai darimana yah? Lalu sayapun membuka catatan saya, list mana yang wajib dikunjungi ketika di kota Paris. Pertama yang saya kunjungi tentu saja menara Eiffel yang terkenal itu, orang bilang belum ke Paris kalau belum ke menara Eiffel.

Begitu saya sampai di Trocadero, dimana adalah tempat utama untuk menikmati menara ini dari jauh. Menara ini begitu bersinar di malam hari, bagaikan tugu yang diselimuti cahaya kerlap kerlip, rasa kagum dan keindahannya semakin membuat saya jatuh cinta. Setelah itu saya dan suamipun berjalan mendekati menara ini untuk naik ke atas, tetapi melihat antrian yang begitu panjang, sayapun memutuskan lain kali saja naik ke atas menara ini.


  Avenue Champs Elysees


 Trotoar Champs Elysees


Setelah dari Menara Eiffel, list yang ke dua dan tiga adalah Champs-Elysees dan Arc de Triomphe. Saya sangat menikmati jalan disepanjang Champs-Elysees dengan lampu-lampu nan megah di kiri kanan bahu jalan hingga ke Arc de Triomphe. Sepanjang jalan ini dipenuhi dengan cafe-cafe, theater dan toko-toko berkelas seperti Louis Vitton, Cartier, Chanel, dll. Panjang jalan Champs-Elysees ini 1.9 km dan 70 m lebarnya yang terbagi 2 jalur, dengan trotoar yang lebar, serta bangku-bangku di tengah trotoar, yang sangat nyaman bagi pejalan kaki yang menikmati sepanjang jalan ini. Tidak heran bila jalan ini dikenal dengan nama La plus belle avenue du monde (jalan terindah di dunia).


Arc de Triomphe de l'Etoile


Setelah berjalan hampir 2 jam, sampailah kami di Arc de Triomphe yang terletak di tengah bundaran place Charles de Gaulle. Monumen ini dibangun setelah kemenangan Napoleon Bonaparte atas Austria. kamipun mengelilingi gapura yang berukuran 45m x 22m x 50m ini. Terdapat begitu banyak relief yang menggambarkan perang Napoleon, dan juga patung serta ukiran-ukiran lainnya. Setelah puas menikmati Arc de Triomphe, dimana kami tidak sempat naik ke atas gapura untuk menikmati pemandangan jalanan Champs-Elysees, dikarenakan kaki sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, maka kamipun kembali ke hotel, untuk beristirahat. Kami perlu mengembalikan energi karena besok masih ada list yang akan dikunjungi.


 Air mancur di Place de la Concorde


Pada hari kedua, kamipun menuju ke Place de la Concorde. Tempat ini bisa dikatakan alun-alun kota yang berbentuk oktagonal dengan luas 6,5 hektar. Terletak di tengah-tengah kota antara Champs-Elysees dan Tuileries Gardens. Sebagai alun-alun kota yang utama, Place de la Concorde dikelilingi oleh delapan sudut paviliun yang dihiasi dengan patung-patung yang mewakili kota-kota besar di Perancis (Bordeaux, Brest, Lille, Lyon, Marseille, Nantes, Rouen dan Strasbourg).
Di tengah alun-alun terdapat sebuah air mancur, dan disebelahnya kita dapat melihat sebuah Obelisk Luxor. Obelisk dengan tinggi 23m ini adalah monumen tertua di Paris yang berasal dari kuil Ramses II di Luxor, Mesir, selain itu kita juga dapat meilihat tiang-tiang lampu yang artistik di sekitarnya. Dimasa revolusi Perancis, alun-alun ini bernama Place de la Rèvolution dan menjadi tempat dipancungnya raja Louis XVI dan istrinya ratu Marie Antoinette.


  Obelisk Luxor


 Salah satu trransportasi utk membawa turis di place de la concorde



Setelah itu kamipun melanjutkan perjalanan ke museum Louvre, salah satu museum terbesar di dunia, dan merupakan bekas istana kerajaan Perancis. Salah satu hal yang menggoda saya untuk mengunjungi museum ini tentu saja lukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci. Pintu masuk ke museum ini melalui sebuah piramida kaca yang dibangun tahun 1989. Setelah membeli tiket seharga 15 euro/ orang, kamipun mulai explore museum megah ini

Museum ini begitu panjang dan luas, dan terdapat lebih dari 380 ribu objek pameran, dari prasejarah hingga abad-21, dan memajang lebih dari 35 ribu karya seni. Setelah saya sampai di buruan saya, yaitu lukisan Mona Lisa, sayapun sempat kecewa. Karena lukisannya tidak besar-besar amat, serta untuk bisa menikmatinya perlu perjuangan extra, karena begitu banyaknya pengunjung yang juga berburu si Mona Lisa. Setelah puas menikmati dan memandangi si empunya 'senyum misterius' itu, kamipun berlalu dan mengelilingi sudut-sudut lain di museum ini. Selain Lukisan mona Lisa, terdapat 2 masterpiece lainnya yang semakin terkenal setelah film 'The Code Da Vinci', yaitu Piramida Louvre dan Piramida Terbalik.


 Museum Louvre


Lukisan Mona Lisa


Dari museum Louvre, perjalanan dilanjutkan ke cathedral Notre Dame. Cathedral yang selalu saya dengar ketika masih kecil karena cerita Si Bongkok dari Notre-Dame atau The Hunchback of Notre-Dame karya Victor Hugo. Cathedral yang bergaya gothik ini terletak di Île de la Cité, yaitu salah satu pulau dari dua pulau alami di sungai Seine. Untuk ke sana kita naik metro yang berhenti di stasiun St.Michel Notre dame. 
Cathedral ini dibangun pada abad ke-12, dan merupakan salah satu gereja katolik bergaya gothik dengan arsitektur terbaik di Eropa, serta masuk dalam situs warisan UNESCO. Selain interior dalam gereja yang indah, kita juga dapat menikmati pemandangan kota Paris dengan sungai seine-nya dari atas menara. Untuk naik ke atas menara, dikenakan biaya 8,5 Euro, selama 1,5 jam dengan 387 anak tangga yang harus kita naiki. 


 Pemandangan dari menara Notre Dame dgn patung gargoyle


 interior katedral


Setelah puas memandangi kota Paris dari atas menara Notre dame, kamipun menuju ke list berikutnya, Montmartre, sebuah kawasan diatas perbukitan, di bagian utara Kota Paris. Kawasan ini juga terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman, diantara mereka yang terkenal seperti Vincent Van Gogh, Pablo Picasso, Claude Monet, dll. Karena begitu banyaknya seniman yang tinggal di sini sebelum mereka terkenal dan juga kehidupan yang berwarna warni, maka kawasan ini menjadi salah satu tempat paling romantis di Paris. Terdapat begitu banyak tempat-tempat menarik di distrik ini, dan ada 2 tempat yang menjadi buruan saya, yaitu Basilique du Sacré-Coeur dan Moulin Rouge. 
 
Kamipun mengambil metro jurusan ke Abbesses, stasiun metro terdekat ke Basilique du Sacré-Coeur. Sepanjang jalan menuju ke Basilika tersebut kami melewati restoran-restoran yang unik dan klasik yang berdiri berdempetan di tepi jalan-jalan yang berbatu dan berliku, sempit, dan kadang menanjak dengan tangga yang sempit dan curam, dan tentu saja selalu dihiasi dengan tiang tiang lampu klasik dan menawan. Ketika kami menaiki tanngga yang menuju ke Basilique du Sacré-Coeur, tidak ada rasa cape selama menaiki tangga yang curam ini, dikarenakan pemandangan pepohonan yang berganti warna dengan sebagian yang sudah gundul yang berjejer di sepanjang kiri kanan tangga. Selain naik dengan tangga yang curam, kita juga bisa naik dengan kereta mini menuju ke basilika yang berwarna putih tersebut.



  Basilique du Sacré-Coeur dari samping kanan


Ketika pertama kali saya melihat basilika yang serupa dengan mesjid ini, sangat menarik perhatian saya, dikarenakan bentuknya dan warna putih yang menyelimuti seluruh bangunan ini. Bangunan bergaya Byzantine-Romanesque ini terbuat dari batu travertine, yang terus menghasilkan calsite, suatu senyawa yang menghasilkan warna putih ketika bercampur dengan air hujan, sehingga dinding bagian luar basilika ini akan tetap terlihat putih bersih. Sungguh menghemat biaya untuk membersihkan gedung yang dibangun pada tahun 1875 ini.
Di sekeliling basilika ini terdapat banyak pelukis jalanan, yang menawarkan lukisan dari gaya impresionis hingga karikatur, dan terdapat berbagai atraksi lainnya yang ditawarkan kepada pengunjung. Walaupun di bulan November yang dingin, tetap banyak turis yang duduk di sepanjang anak tangga yang menuju basilika, sambil menikmati pemandangan kota Paris dengan gratis tentunya dan yang pasti tanpa antrian panjang, serta di iringi musik dari pengamen jalanan. Dan tentu sayapun menikmati pemandangan ini bersama dengan suami tercinta.... Ahhhh saya telah tergoda di kota sejuta cahaya ini.


 Pantomin dekat tangga naik ke Basilika


Perjalanan kamipun dilanjutkan dengan tujuan terakhir kami, Moulin Rouge yang terletak di distrik Pigalle, distrik yang terkenal dengan kehidupan malamnya. Moulin Rouge dengan kincir angin dan nyala lampu merahnya mengingatkan saya akan sebuah film yang dibintangi Ewan McGregor dan Nicole Kidman dengan judul yang sama. Moulin Rouge adalah salah satu club malam yang menyajikan hiburan kabaret di Montmartre. kawasan ini termasuk red-light district, dengan gedung yang menawarkan live show dan deretan sex shop yang saling berdampingan dengan kafe dan toko cendera mata di tepi jalannya. 



Perjalanan saya menjelajahi Kota sejuta cahaya ini akan dilanjutkan pada catatan saya yang lainnya pada kunjungan saya yang berikut di kota ini. Sisi Lain Kota Paris .
dan surga belanja di Paris


HAPPY TRAVELING.....