Tuesday, 16 December 2014

Tertawan di Saint malo, Kota Para Bajak Laut di Perancis







Sudah dua kali saya mengunjungi Saint Malo, pertama kali pada musim dingin dan kedua kali pada musim panas. Kota ini selalu mempunyai hal-hal menarik di setiap musimnya, ketika musim dingin yang berdekatan dengan Natal dan tahun baru, kota ini penuh cahaya dengan dekorasi Natal dan Tahun Baru, dan ketika musim panas, banyak acara maritim di gelar serta perahu-perahu besar hilir mudik di dermaga yang terkenal dengan bajak lautnya ini.

Saint Malo adalah sebuah kota pelabuhan yang terletak di bibir pantai Barat Laut Perancis, berhadapan dengan bagian selatan daratan Inggris, tepatnya di region Bretagne, 6 jam perjalanan darat dari Paris. Kota ini dikelilingi tembok-tembok raksasa nan kokoh dengan panjang hampir 2 km dengan lebar 12 kaki. Tembok besar ini untuk melindungi kota dari serangan musuh pada masa perang dulu dan serangan badai yang sering menerjang pada saat laut pasang.
Pada abad ke-6, St. Brendan dari Irlandia dan St. Aaron dari Wels datang ke tempat ini dan mendirikan biara, dan seiring perkembangan waktu, maka dari hanya biara lalu semakin banyak pendatang yang menetap dan menjadi sebuah kota dengan nama Saint Malo, dari nama seorang perintis uskup Celtic, St. MacLow. Kota pelabuhan ini banyak melahirkan pelaut-pelaut handal, diantaranya adalah Jacques Cartiers, orang Eropa pertama yang menjejakkan kakinya di Montreal dan Quebec, dan menamai daratan itu Canada pada abad ke -16, dan sebuah museumpun didedikasikan untuknya. 



 Sebagian tembok terlihat dr jalan


 
Ketika kami memasuki kota ini, dari jauh saya sudah melihat kekokohan tembok yang mengelilingi kota, dan begitu banyak kapal-kapal besar dan kecil dengan tiang-tiang yang tinggi hilir mudik ataupun bersandar di dermaga. Dan mata sayapun melihat sebuah kapal besar yang sangat mencolok dengan warna kuning dan tiang-tiang yang besar, itulah kapal Etoile du Roy. Kapal tradisional terbesar kedua di Perancis, dengan panjang 152 ft (46 m). Dan kita dapat masuk ke dalam kapal ini dimana masih terdapat 20 buah meriam yang masih ditempatnya seperti pada masa abad ke-18.
Setelah itu kamipun lanjut masuk ke dalam kota dan hawa kehidupan bajak lautpun sudah mulai tercium dengan segala pernak pernik bajak laut yang terpajang di setiap toko. Dari zaman dulu warga Sain Malo memang terkenal akan semangat kebebasannya, bahkan dalam percaturan politik pada konflik Perancis dan Inggris, mereka bebas menentukan hidupnya dengan menjadi bajak laut, dan kota ini semakin makmur karena kekayaan dari hasil merampok. Dan pada abad ke 17-18 mereka menjadi bajak laut resmi kerajaan Perancis dengan nama Corsaire.
Dan penduduk Saint Malopun bangga akan masa lalunya sebagai bajak laut, tetapi mereka tidak mau di sebut sebagai bajak laut atau Pirate tetapi sebagai Corsaire, dalam arti bajak laut yang berlisensi. Para Corsaire ini adalah bajak laut yang bekerjasama dengan kerajaan Perancis, dimana mereka merampok kapal-kapal musuh kerajaan terutama kapal Inggris dan Spanyol, lalu hartanya di bagi antara kerajaan Perancis dan para corsaire ini. Dan karena mereka merampok demi kepentingan kerajaan Perancis, maka mereka tidak pernah di tangkap. 
Salah satu Corsaire yang terkenal adalah Robert Surcouf, Roi des Corsaires (raja para bajak laut) yang berhasil merampas 47 kapal hanya dengan mengandalkan sekelompok kecil pasukan elit dan kapal kecil yang lincah, dan hal ini membuat kerajaan Inggris sangat menderita kerugian. Begitu hebatnya Surcouf di lautan, sampai Napoleon Bonaparte pernah memintanya memimpin armada laut Perancis. 



 Kapal Etoile du Roy


Ketika kami menyusuri jalanan dalam kota, tiba-tiba terdengar suara lonceng berdentang, dan kamipun mengikuti suara itu dan menemukan katedral St. Vincent/ Katedral Saint Malo yang bergaya gotik dan renaisans yang dibangun pada abad ke-11 dan 18. Dari katedral inilah sejarah kota Saint Malo dapat ditelusuri. Setelah itu kamipun lanjut naik ke atas benteng, dan mengelilingi kota dengan berjalan disepanjang tembok kota. Dan jangan lupa bila ke Saint Malo sebaiknya membawa jaket, karena kota ini sangat berangin, walaupun di musim panas.



 Katedral St. Vincent


Dari atas tembok ini banyak menawarkan panorama indah, dari teluk, tebing, pantai dan pulau-pulau serta bandara dengan kapal-kapal yang megah hingga rumah-rumah penduduk dalam benteng yang tetap terpelihara, perpaduan yang indah antara kehidupan laut dan kota. Diatas tembok ini juga kita melihat banyak burung camar yang beterbangan, mereka cukup jinak, tidak takut mendekati manusia ketika diberi makanan. Anak sayapun sangat senang bermain dan mengejar camar-camar ini, suatu aktivitas yang cukup menyenangkan bagi anak-anak.



 Memberi makan burung camar



Diatas tembok yang kokoh ini juga kita bisa melihat beberapa patung peninggalan bersejarah, seperti patung Jacques Cartier, Robert Surcouf, dan Réné Duguay-Trouin (bajak laut yang menjadi laksamada angkatan laut Perancis), serta meriam-meriam, dan juga terdapat menara pengawas disetiap sudut benteng, yang dipergunakan untuk mengawasi musuh dari daratan dan lautan.
Selain pemandangan indah yang ditawarkan, pantai di luar tembokpun sangat cantik, tidak heran begitu banyak atraksi yang ditawarkan di pantai ketika musim panas, salah satunya kolam renang laut, kolam renang ini akan terlihat bila air surut, tetapi bila air pasang yang terlihat hanya menara loncatnya saja. Selain itu juga banyak ditawarkan atraksi permainan untuk anak-anak.



 Penampakkan sebagian tembok


 Pemandangan diluar tembok



 Pemandangan pantai dgn tiang2 utk penghadang dr badai ombak



 Berjalan diatas tembok yang nyaman


  Patung Robert Surcouf


 Patung Jacques Cartier



 Kolam renang alam ini tidak terlihat bila air pasang


  
Menjelang siang, kamipun merasa lapar dan mencari restoran atau kedai yang menjual makanan khas daerah sini. Saint Malo, Bretagne umumnya memang terkenal akan makanan lautnya, terutama kerang-kerangan, selain itu di sini juga terkenal akan galette dan crepe. Kami akhirnya memutuskan mencoba galette Bretonne, yaitu pancake tipis dengan isi daging asap, telur dan keju parut.... krispi di luar dan renyah di dalam, rasanya enak. Jenis makanan ini adalah salah satu kesukan keluarga kami, karena gampang bikinnya dan juga enak rasanya.

Setelah makan siang, kamipun melanjutkan penelusuran di jalan-jalan dalam kota yang tetap terpelihara sejak abad pertengahan. Dan banyak toko-toko suvenir yang menjual cinderamata khas Saint Malo dan Bretagne, cinderamata yang berkaitan dengan maritim, replika kapal, bajak laut, baju-baju khas pelaut serta buku-buku sejarah kota Saint Malo dalam berbagai bahasa.
Sayapun membeli beberapa suvenir baju serta dekorasi khas bajak laut Saint Malo.



 Jalan dalam kota pada saat musim dingin



 Salah satu jalan di Saint Malo


Selain katedral dan bangunan tua dalam kota, terdapat juga museum-museum yang terkenal di Saint Malo, diantaranya Musee château de Saint malo dan Musee International du Long-Cours Cap Hornier, dimana dulu pernah berfungsi sebagai penjara. Dan sekarang menjadi museum untuk menghormati para pelaut dari St. Malo, para penjelajah Perancis pertama yang menyeberangi ketangguhan semenanjung Cap Horn pada abad ke-17. Pada umunya museum-museum ini memajang benda-benda yang berhubungan dengan maritim dan pelayaran masa lalu, serta juga terdapat lukisan Jacques Cartier. Diluar benteng juga terdapat beberapa kastil atau bangunan bersejarah yang terletak di pulau-pulau, seperti Fort National yang terletak di sisi timur kota, dibangun pada tahun 1689 oleh arsitek militer Vauban, dan di Ile du Grand Bé terdapat makam Chateaubriand, penulis terkenal lahir di Saint Malo, Ile du Grand Bé adalah sebuah pulau yang terletak di laut terbuka. 100 m dari ile du Grand Bé terdapat benteng di pulau Petit Bé yang dibangun pada abad ke-17 oleh arsitek yang sama. Kedua pulau ini dapat dikunjungi bila air surut.



 Fort National


Setelah puas mengagumi kota bajak laut ini, kamipun melanjutkan perjalanan ke Mont Saint Michel



Monday, 15 December 2014

Jelajah Singkat di Kalimantan Timur




Pantai Melawai


karena kunjungan singkat ke Kalimantan Timur, saya dan seorang temanpun membuat list kota mana saja yang akan kami kunjungi, dan pilihanpun jatuh pada Balikpapan, kota minyak yang bersih dan modern, Samarinda, ibu kota provinsi kalimantan Timur, serta Tenggarong dengan peninggalan sejarah Kutai Kertanegara yang mempesona.

Ketika kami mendarat di bandara Internasional Sepinggan/ bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, kamipun terpeson akan keindahan bandara ini, modern dan bersih. Setelah itu kamipun keluar dan mencari mobil sewaan untuk ke hotel dan mengelilingi kota ini. Dalam perjalanan menuju ke kota Balikpapan, kami melalui jalanan yang bersih dan mulus, begitu juga dengan jalanan didalam kota semuanya bersih, tidak heran bila kota ini mendapat gelar kota Adipura yang disandangnya selama 13 tahun. 


Ketika sampai di Hotel, hari sudah mulai sore, lalu kamipun menuju ke pantai Melawai untuk makan malam dan menikmati suasana pantai di kota minyak ini. Sebelum sampai di pantai, kami menyempatkan diri berjalan-jalan di pelabuhan lokal dengan rumah penduduk di tepian pantai. Rumah-rumah yang berdiri dengan tiang-tiang kayu atau bambu diatas pantai dengan ombak yang cukup tenang serta kehidupan penduduk nelayan yang asri dengan alam pantainya, sungguh pemandangan yang indah.


Ketika sampai di pantai Melawai, penduduk setempat yang berjualan makanan mulai mendirikan tenda dan keluarkan meja dan bangku serta ada juga tempat untuk lesehan. Sambil menunggu persiapan tenda, kami memutuskan jalan-jalan di sekitar pantai, dan ternyata banyak muda mudi yang sedang memadu kasih, tidak ketinggalan juga pasangan suami istri yang berjalan-jalan menikmati sore di pantai ini. 
Di tengah pantai terdapat sebuah pulau kecil, pulau Babi namanya. Bila air surut para pengunjung dapat berjalan hingga ke pulau kecil ini. 

Ketika tenda makanan sudah siap, kamipun duduk di lesehan dan memesan makanan sambil menikmati matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Namun sayangnya langit mendung dan awan begitu pekat, sehingga saat matahari terbenam yang terlihat hanya awan gelap yang menggelantung di langit. 
Setelah menikmati nasi hangat, cah kangkung dan kepiting, kami kembali ke hotel untuk beristirahat untuk mempersipkan perjalanan esoknya.




 Rumah di tepian pantai


Pada hari ke-2, setelah sarapan di hotel kami berangkat ke kawasan wisata Bukit Bangkirai yang terletak di kecamatan Samboja, kabupaten Kutai Kertanegara. Hampir 2 jam perjalanan dari Balikpapan ke kawasan ini. Wisata ini menawarkan pesona hutan hujan tropis yang masih alami, dan CanopyBridge (Jembatan Tajuk) dengan panjang 64 meter yang digantung menghubungkan 5 pohon Bangkirai di ketinggian 30 meter. Canopy Bridge ini telah menjadi salah satu pilihan wisata wajib bagi turis yang berkunjung ke Balikpapan. Canopy Bridge ini merupakan yang pertama di Indonesia, kedua di Asia dan yang kedelapan di dunia. Konstruksinya dibuat di Amerika Serikat. 



 Gerbang masuk ke Bukit Bangkirai


Ketika kami sampai di gerbang dengan tulisan 'Welcome/ Selamat Datang Kawasan Wisata Alam Bukit Bangkirai', dengan gapura yang dihiasi perisai khas ukiran suku dayak di kiri kanan, Suasana damai dan tenang sangat terasa di sini, hanya terdengar suara burung dan serangga tanpa ada kebisingan kendaraan perkotaan. Dan untuk mencapai ke Jembatan Tajuk ini, kami harus berjalan sekitar 300 m dari pintu masuk utama. 
Kami melewati jalan setapak dengan tangga-tangga dan dikelilingi pohon-pohon besar nan menjulang tinggi, dan bahkan ada beberapa pohon terdapat tanaman merambat yang menjuntai. Lalu teman saya mencoba berayun bak tarzan... Tetapi sepertinya teman saya ini keberatan body hahaha....


Setelah itu kami juga melewati tangga-tangga jembatan dengan ketinggian hanya beberapa meter saja. Akhirnya sampailah kami di Canopy Bridge ini, sebuah pohon dengan tangga-tangga kayu yang memutar untuk naik ke atas. 


Adapun jembatan ini menghubungkan pohon-pohon bangkirai dengan tali baja dengan ketinggian kira-kira 30 meter dari atas permukaan tanah. Pemandangan yang disuguhkan adalah hutan asri yang hijau dengan semilir angin yang menyapu wajah, serta berbagai bunyi suara burung dan serangga yang saling bersahutan. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di jembatan ini, ada rasa takut, tetapi karena kokohnya jembatan, dan indahnya panorama yang tersaji, maka semua rasa takut itu hilang tergantikan rasa kagum tiada hentinya.


Setelah puas menikmati pemandangan hutan dan berjalan-jalan di jembatan ini, kami kembali ke parkiran mobil dan melewati kawasan penginapan dengan cottage yang ditata asri. 

Adapun biaya tiket Canopy Bridge harganya Rp 15.000 untuk turis domestik dan Rp 30.000 untuk turis mancanegara, dan harga tiket masuk sepeda motor tarifnya Rp 2.000, mobil sedan atau sejenis Rp 5.000, bus atau minibus Rp 10.000.




 
Tangga naik ke atas Jembatan Tajuk




 
Berjalan di Jembatan Tajuk





 
Jembatan Tajuk dilihat dr bawah





Pemandangan hutan yg hijau dr jembatan Tajuk




Perjalanan lanjut menuju ke Tenggarong, dan kami melewati Samarinda, tetapi tidak mampir, karena akan menjadi tujuan akhir setelah dari Tenggarong. Adapun Tenggarong dengan julukannya 'Kota Raja', adalah ibu kota kabupaten Kutai Kertanegara, wilayah ini dulunya merupakan ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. 

Kota Tenggarong awalnya bernama Tepian Pandan ketika ibu kota kerajaan ini dipindahkan pada 28 September 1782 dari Pemarangan oleh Aji Imbut yaitu Raja Kutai Kartanegara ke-15 (Aji Muhammad Muslihuddin). Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang artinya rumah raja. Dalam penyebutannya kata Tangga Arung kemudian populer dengan sebutan Tenggarong.


Pulau Kumala dgn Sky Towernya


Ketika sampai di tenggarong, kami harus menyeberang ke pulau Kumala untuk sampai di hotel dimana kami menginap. Pulau yang terletak di tengah sungai Mahakam yang melewati kota Tenggarong ini dengan luas 85 hektar, dan merupakan sedimentasi lumpur yang membentuk tanah. 
Dan hotel kami terletak di pulau yang cantik ini. Terdapat 2 jenis penginapan di pulau ini, yaitu: cottage dan hotel dengan 2 lantai. kami memilih cottage dengan bangunan kayu yang berdiri diatas tiang-tiang dengan ruang dibawahnya. 

Setelah check in dan meletakkan semua barang bawaan, kamipun menyeberang ke Tenggarong untuk makan malam. Kami menemukan sebuah restoran dengan pemandangan sungai Mahakam. Sambil menikmati makanan dengan pemandangan tepian sungai Mahakam, dengan lampu-lampu yang berkedap kedip dengan indahnya, serasa dunia milik kita berdua hahahaha

Setelah selesai menikmati makan malam, kamipun menyeberang kembali ke pulau Kumala dan berkeliling disekitar cottage dengan pemandangan jembatan gantung Tenggarong yang bersinar dimalam hari. 
Jembatan tenggarong adalah jembatan yang menghubungakan kota Tenggarong dengan kecamatan Tenggarong Seberang yang menuju ke Kota Samarinda. Tetapi sayang jembatan ini runtuh setelah berumur 10 tahun, untung kami masih sempat menikmati indahnya jembatan ini. Setelah puas menikmati pemandangan malam di sebagian kecil pulau ini, kamipun kembali ke hotel.



 Cottage kami



Pemandangan jembatan Tenggarong  dimalam hari dr Pulau Kumala




Keesokkan harinya, Setelah menikmati makan pagi, kamipun keliling lebih jauh di pulau ini, dimana terdapat kawasan rekreasi keluarga yang hampir mirip dengan Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta. Untuk berkeliling di sekitar pulau, mobil wisata disediakan dengan harga tiket Rp3.000,00 – Rp4.000,00 per orang untuk setiap perjalanan. Adapun fasilitas yang paling terkenal adalah Sky Tower dimana para pengunjung bisa melihat seluruh pulau dan kota Tenggarong dari menara tinggi 100 meter. Menara ini bisa berputar berlahan-lahan sehingga para pengunjung bisa melihat seluruh pulau. Atraksis lain yang disediakan antara lain adalah mobil bumper, Lamin Beyoq, Lamin Mancong, dan Lamin Wahau, komedi putar, patung Lembuswana, kolam air mancur, Danau Pesut dll. Serta terdapat cable car untuk menyebrang ke Tenggarong seberang. 



 Salah satu rekreasi di pulau Kumala



 Rumat adat Dayak di pulau Kumala



 cable car



 pemandangan rumah penduduk di tepi sungai Maham dr cable car



 Pemandangan pulau dr cable car



Setelah menjelajahi taman rekreasi ini, kami lanjut menuju ke museum Mulawarman, Bangunan ini merupakan bekas keraton Kesultanan Kutai Kartanegara yang dibangun pada tahun 1936. Didalam museum ini dapat dilihat beraneka macam koleksi benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan Kutai Kartanegara. Benda-benda budaya dari daerah Kutai, koleksi keramik kuno, koleksi uang kuno, dan masih banyak lagi. 

Museum Mulawarman terletak di Jalan Diponegoro dan dibuka setiap hari (kecuali Senin) mulai jam 08.00 hingga 16.00. Di depan museum ini terdapat patung Lembuswana, yang dicirikan sebagai berkepala singa, bermahkota (melambangkan keperkasaan seorang raja yang dianggap penguasa dan mahkota adalah tanda kekuasaan raja yang dianggap seperti dewa), berbelalai gajah (Leman artinya gajah, melambangkan dewa kecerdasan), bersayap garuda, dan bersisik ikan. Lembuswana adalah hewan dalam mitologi rakyat Kutai yang hidup sejak zaman kerajaan Kutai.

Dibelakang museum, pengunjung bisa berbelanja cinderamata khas budaya Dayak, batu perhiasan, manik-manik, maupun cinderamata lainnya. Dan sayapun membeli kain dan perhiasan khas Dayak.
Setelah keliling di kota ini, kami kembali ke hotel untuk mempersiapkan perjalanan esok harinya.



 Museum Mulawarman dgn patung lembuswana



 Singgasana dlm museum



 Toko suvenir

 
Esok paginya, kami berangkat ke Balikpapan dan berhenti di Samarinda. 
Samarinda adalah ibu kota provinsi Kalimantan Timur, kota yang dilewati oleh sungai Mahakam juga. Untuk merasakan perjalanan yang berneda, kami menyewa perahu lokal untuk menikmati alam sungai Mahakam. Pemandangan rumah penduduk di tepian sungai dan segala aktifitas di sungai Mahakam yang sibuk menjadi pemandangan yang unik, dan kami sangat menikmatinya. Sungai Mahakam adalah jalur transportasi yang sibuk di wilayah Kalimantan Timur, maka tidak heran bila segala aktifitas terjadi di sungai ini.



 Transportasi di sungai Mahakam yg menghubungi satu kota dgn kota lain



 Pemandangan rumah penduduk di tepi sungai



kehidupan di tepi sungai


Setelah puas berkeliling dengan perahu, kamipun lanjut ke Balikpapan dan terbang kembali ke Jakarta. Sungguh suatu perjalanan singkat yang selalu melekat di hati akan keindahan provinsi ini.

Harga yang tercantum sewaktu-waktu dapat berubah, jadi mohon di cek info harga-harga tersebut.


Happy Traveling....

Wednesday, 10 December 2014

Merasakan Tahun Baru di Negeri Singa




Merlion Park


Suatu kali terbersit keinginan merasakan tahun baru di negara tetangga, yang tidak jauh dari Indonesia, Singapura. Sayapun mencari info tempat-tempat mana saja yang menjadi pusat perayaan, dan akhirnya ketemu beberapa lokasi pusat pergantian tahun di sana, antara lain Marina Bay Sands, Esplanade, Siloso Beach, dan Clarke Quay, serta tidak ketinggalan keramaian di Orchard Road juga. Dan sayapun mencari hotel yang tidak jauh antara Orchard Road dan Esplanade.

Sehari sebelum malam tahun baru, sayapun berjalan-jalan ke pulau Sentosa. Ada beberapa cara menuju ke pulau kecil ini, yaitu dengan Sentosa express, cable car, bus atau dengan jalan kaki, dan saya memilih dengan cable car. Setelah sampai di pulau ini, sayapun menuju ke Imbiah Lookout yang berada di jantung pulau Sentosa. Pertama yang saya kunjungi adalah Taman Kupu kupu dan Serangga, setelah menikmati berbagai jenis kupu-kupu, sayapun lanjut menuju ke Underwater World, menikmati berbagai jenis satwa air, baik ikan air tawar maupun laut, serta terdapat sebuah torowongan kaca untuk melihat berbagai jenis ikan laut seperti pari dan ikan hiu, tidak begitu berbeda jauh dengan di Seaworld Indonesia. Dan saya menemukan sebuah aquarium dengan jenis ikan yang lucu nan imut-imut yang kelihatan isi perutnya yang berwarna merah, menari_nari dikedalaman air bersuhu -4 derajat celcius, namanya 'Angel Fish'.




 Si Angel Fish


 
Setelah itu sayapun menuju ke Laguna Lumba lumba, dan tidak lupa melewati The Merlion. Di Laguna ini saya menyaksikan atraksi lumba-lumba pink. Setelah menyaksikan atraksi lumba-lumba sayapun berjalan-jalan di pantai Soloso. Masih begitu banyak atraksi yang menarik di pulau ini, antara lain Universal Studio, Marine Life Park, lake of Dream, serta yang paling menakjubkan Song of the Sea. Tetapi berhubung tidak cukup waktu sayapun kembali ke daratan utama dan menuju ke Orchard Road.





 
Di Orchard Road yang ketika itu sedang ada acara dari berbagai negara yang di gelar sepanjang jalan Orchard. Setiap negara mendapat satu panggung dan mereka memperlihatkan atraksi dari negara mereka serta tidak ketinggalan baju traditionalnya. Setelah saya jalan hampir 2 jam-an, saya menemukan satu panggung dengan tulisan 'Irian Jaya, Aboriginal Group', wahhhh jadi semangat melihat peserta dari tanah Papua.
Dan sayapun melihat hasil ukiran patungnya dan tidak ketinggalan berfoto bersama tentunya.
Dan setelah itu, sayapun lanjut menyusuri dari satu tempat ke tempat lainnya, menikmati musik dari berbagai negara, serta alat musiknya yang indah dan tentu saja baju-baju tradisionalnya yang cantik-cantik. Setelah malam semakin larut dan manusia semakin tumpah ruah di jalanan Orchard, sayapun kembali ke hotel untuk bersistirahat.




 Papua bertemu dengan Mongolia



 Keramaian di Orchard road



Keesokkan harinya, pagi-pagi sayapun keluar dari hotel dan menuju ke Jurong Bird park, taman burung terbesar di dunia, dengan koleksi lebih dari 8000 ekor burung dari sekitar 6000 spesies yang berbeda, dan burung-burung ini berasal dari seluruh dunia. Dan sayapun tidak ketinggalan menikmati atraksinya serta memberi makan burung-burung tersebut, dan tentu saja berfoto bersama dengan burung yang beraneka warna. Di sini juga terdapat fasilitas mengamati burung dengan menggunakan monorail, tetapi saya tidak sempat menaikkinya.



 Memberi makan burung



Lalu perjalanan sayapun lanjut ke Bugis Street, ketika saya tiba di sini, begitu ramainya para turis memenuhi tempat ini, dan sayapun tetap berniat masuk dan mencari beberapa suvenir. Setelah beberapa saat berjalan di dalam Bugis street yang penuh sesak manusia serta toko-toko yang membludak, sayapun menyerah dan segera keluar setelah mendapat beberapa suvenir khas Singapura.

Perjalananpun lanjut menuju ke China Town, dan sesuai dengan namanya, daerah ini penduduknya memang mayoritas keturunan China, sehingga sangat terasa kental budaya China di daerah ini, misalnya di bentuk bangunan, hiasan, barang dagangan, dan lain-lain. Dan bila ingin membeli oleh-oleh di sini, jangan lupa untuk menawar. Dan sayapun makan siang di sini, menikmati masakan China yang sudah tidak asing di lidah, serta sayapun membeli beberapa camilan sebagai oleh-oleh.



 China Town


 
Setelah puas menikmati arsitektur bangunan di China Town, sayapun menuju ke tujuan utama saya menikmati malam pergantian tahun di Esplanade.
Ketika saya sampai di sini, hari masih sore, dan belum begitu banyak turis dan warga yang datang untuk menikmati kembang api di malam pergantian tahun, dan sayapun menikmati jalan-jalan ke Merlion Park yang tidak jauh dari Esplanade. Merlion adalah sebuah patung dengan kepala singa dan berbadan ikan yang sudah menjadi maskot Singapura. Nama Merlion merupakan gabungan dari “mermaid” dan “lion” atau dalam bahasa Indonesia adalah ikan duyung dan singa.
Setelah puas menikmati sekitar Merlion Park, sorepun mulai berganti malam dan orang-orangpun mulai makin banyak yang membanjiri tempat ini. Sayapun kembali ke esplanade dan masuk ke sebuah foodcourt, dan foodcourd di sini juga tidak berbeda jauh dengan suasana di luar yang mulai penuh orang. Dan untung saya masih bisa dapatkan tempat duduk dan mulai memesan makanan, tetapi hampir sejam saya menunggu dan makanan baru datang.... Harusnya saya bawa sandwich, atau makanan dari China Town. Setelah selesai makan, sayapun mencari tempat untuk menikmati kembang api. Saya menemukan satu hal yang agak berbeda di sini, saya tidak mendengar suara trompet ataupun petasan seperti di Jakarta.... Para warga atau turis yang datang memang benar-benar ingin menikmati kembang api pergantian tahun. Sayapun agak tenang tidak merasa was-was terkena petasan ataupun bunyi trompet yang di dekatkan ke telinga saya.



Esplanade



Tepat pukul 00:00 waktu Singapura, kembang apipun mulai di luncurkan satu demi satu dari teluk Singapura, cahayanya sungguh spektakuler dan dengan berbagai warna warni dan bentuk cahayanya yang menerangi langit Singapura malam itu dan pantulannya diatas air teluk sungguh indah.
Ketika berlangsung pertunjukkan kembang api, banyak pasangan yang berpelukkan, berciuman, membuka champagne atau berfoto ria mengabadikan malam pergantian tahun malam itu.
Usai pertunjukan kembang api, orang-orang mulai bergerak menuju ke stasiun MRT yang terdekat, sayapun mengikuti arus manusia yang begitu banyak ini, tetapi karena banyaknya orang-orang yang menuju satu tempat ini, saya memutuskan berjalan kaki saja. Dan tidak hanya saya saja yang berjalan kaki, begitu banyak orang-orang yang memutuskan berjalan kaki juga sambil menikmati malam yang indah dengan taburan cahaya lampu yang menawan.








  
Oh iya selama di Singapura, mau ke mana-mana gampang karena ada MRT, dan semuanya tertib dan tepat waktu. Ada transportasi lain yaitu taxi, tetapi harganya mahal. 

Happy Traveling.....
 

Sunday, 30 November 2014

Perjalanan yang tak terlupan di Tana Toraja




Mengawali dari ajakan teman untuk menjelajahi keunikan budaya di Tana Toraja (Tator), Sulawesi Selatan, yang terkenal dengan upacara adat kematian/ Rambu Solok yang dapat berlangsung selama berhari-hari melibatkan seluruh penduduk desa.. Selain upacara rambu Solok, tentu saja wisata ke makam-makam dimana jenazah tidak dikuburkan di tanah. Budaya Toraja memang tidak menguburkan mayat di dalam tanah. Mereka menganggap bahwa tanah merupakan pemberian Yang Maha Kuasa yang wajib dijaga kesuciannya. Oleh sebab itu mereka meletakkan sanak keluarga yang sudah meninggal ke dalam batu atau batang-batang pohon. Karena kekayaan budayanya yang unik ini, pada tahun 2004 Tana Toraja dimasukkan dalam daftar sementara warisan budaya dunia oleh UNESCO (Inscription World Heritage-C1038).

Dan inilah kami dalam perjalanan dengan bus selama 8 jam dari Makassar ke Tana Toraja. Selama dalam perjalanan, saya sangat menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh alam pegunungan kapur, lembah-lembah yang cantik dengan persawahan yang hijau, serta rumah-rumah tradisional Bugis dan Toraja yang unik. Tana Toraja terletak didaratan tinggi yang dikelilingi pegunungan dengan lereng yang curam dan tentu saja dengan cuaca yang sejuk.
Jam menunjukkan pukul 5:00 pagi ketika kami sampai di Rantepao, lalu kamipun menyewa ojeg motor dan langsung check in ke hotel untuk beristirahat sebentar sebelum mulai menjelajahi kabupaten ini.



 Sungai Sa'dan




 Hotel tempat kami menginap



 Transportasi di Rantepao



Jam 8:00 pagi kamipun mulai keluar dari hotel setelah sarapan pagi dengan ditemani kopi khas Toraja. Tempat pertama yang ingin kami kunjungi adalah Ke'te Kesu, 4 km dari tenggara Rantepao . Dan untuk mencapai ke sana kamipun menyewa mobil yang dikenalkan bapak tukang ojeg motor yang baik, dan dalam perjalanan, bapak supirnyapun mulai bercerita bahwa nenek moyang suku bangsa Toraja, berasal dari dataran tinggi Cina Selatan atau dari Indochina pada masa ribuan tahun silam, lalu mereka mengarungi lautan dan ketika terjadi badai topan, merekapun mendarat di sebuah pulau dan menggunakan kapal mereka sebagai atap sebagai pelindung. Yang akhirnya melahirkan rumah tradisional Toraja dengan atap seperti bentuk kapal dan semuanya menghadap ke arah utara dimana asal usul mereka.


Akhirnya kitapun sampai di Ke'te Kesu, saat memasuki kawasan Kete’ Kesu yang kita jumpai pertama kali adalah deretan penjual souvenir, dan tidak lupa sayapun membeli sebuah lukisan bermotif ukiran khas Toraja yaitu rumah Tongkonan. Ketika menginjakkan kaki di kompleks ini, kami disuguhkan pemandangan rumah Tongkonan yang berbaris rapi berhadapan dengan lumbung padi, bentuk Tongkonan sangat khas yang memiliki atap yang besar dan tinggi menjulang berbentuk seperti perahu. Atap rumah terbuat dari susunan bambu, dan pada bagian atas depan rumah diberikan hiasan yang didominasi oleh warna orange dan hitam, serta terdapat deretan tanduk kerbau yang terpajang disebuah tiang di bagian depan rumah. Tanduk kerbau tersebut merupakan simbol status sosial pemilik rumah dan sudah berapa kali melakukan upacara rambu solo (upacara pemakaman).
Dalam kompleks ini, terdapat 6 Tongkonan dan 12 lumbung padi, dan tidak jauh dari kompleks Tongkonan, kami melalui sebuah tangga batu dan bertemu dengan pekuburan dengan puluhan tengkorak dan tulang belulang yang diletakan bertumpuk di peti – peti yang sudah nampak usang dan  rapuh. Sedangkan beberapa peti yang lain masih berada di dinding tebing dan ditopang dengan balok-balok kayu. Dan sayapun tidak berlama-lama di sini.


 Tongkonan di Ke'te Kesu




Deretan tanduk kerbau



Pekuburan di Ke'te Kesu



kamipun lanjut ke pekuburan Batu Lemo, tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Lemo adalah pekuburan berupa dinding tebing tinggi yang di lubangi, dan lubang-lubang tersebut diisi oleh peti-peti jenazah. Diatas tebing tersebut juga terdapat deretan patung kayu yang di sebut 'tau-tau'. Setiap tau tau mewakili satu jenazah yang dikubur di dinding batu tersebut. Konon kawasan pemakaman ini sudah ada sejak abad ke-16. Dan untuk membuat lubang ini diperlukan waktu 6 bulan hingga 1 tahun dengan biaya sekitar Rp. 30 jutaan, lama ya?
Selain pekuburan di dinding, kita juga melihat pemandangan yang asri di sini, hamparan sawah, hutan yang hijau serta bukit-bukit cadas yang megah. Di sini juga terdapat deretan toko-toko suvenir, dan saya melihat bahwa tau-taupun bisa dibeli dan menjadi suvenir khas Toraja, menarik yah?


 Pekuburan Lemo















 Pemandangan di Lemo





Perjalanan kamipun lanjut menuju ke Londa, sebuah pekuburan batu di dinding bukit. Ketika kami sampai, yang pertama menyambut kami tentu saja deretan toko-toko suvenir. Dan tidak jauh kami melihat sebuah bukit yang cukup curam dengan peti mati bertumpuk dicelah bebatuan, dan patung kayu manusia lengkap dengan pakaian berjejer rapi di dinding tebing yang dipahat ibarat jendela sebuah rumah. Tidak jauh dari makam gantung ini terdapat sebuah goa makam yang usianya ratusan tahun. Kamipun beranikan diri masuk ke makam goa ini dengan seorang guide yang membawa lampu petromax. Di dalam goa kami menemukan puluhan peti mati yang di sebut 'Erong'. Bentuknya bisa seperti babi, perahu, kerbau, bila bentuknya kerbau menandakan bahwa di dalam peti ini terbaring mayat seorang pria. Dan bila berbentuk babi, maka berarti yang ada di dalamnya adalah mayat perempuan. Selain erong-erong, kami juga melihat tulang belulang berceceran di lantai, tengkorak-tengkorak yang tersusun di dinding goa atau di celah-celah bebatuan goa. Bila saya solo traveling ke sini, mungkin saya sudah ngacir duluan, dan sayapun memandang teman saya dan dia tersenyum untuk menenangkan saya yang sudah tidak tenang. Dan tidak memerlukan waktu lama kamipun keluar dari goa dan lanjut ke destinasi selanjutnya.


 Pekuburan di Londa


 tengkorak yg diletakkan di dinding goa



 Pekuburan Goa di Londa



 Pekuburan goa di Londa




Perjalanan terakhir kami adalah Batu Tumonga, yang terletak dilereng Gunung Sesean yang merupakan gunung tertinggi di Toraja. Dan adalah tempat terbaik untuk menyaksikan keindahan Tana Toraja dari tempat ini, termasuk panorama kota Rantepao dan lembah sekitarnya.
Dan di tempat ini juga terdapat sekitar 56 batu menhir dengan rata-rata tinggi sekitar 2-3 m, dan dalam satu lingkaran menhir terdapat 4 pohon di bagian tengahnya.
Tidak hanya di negara Eropa saja yang memiliki menhir, Indonesia juga punya dan dapat kita temukan di Tana Toraja, tanah para raja 'The Land of Heavenly King'.
Walaupun kami tidak sempat menyaksikan upacara Rambu Solok, dan juga beberapa tempat yang masih belum kami kunjungi, tetapi kami merasa inilah perjalanan kami yang tak akan terlupakan.



 Menhir




 Pemandangan di Batu Tumonga



 Pemandangan dr Batu Tumonga



Kerbau bule