Saturday, 14 February 2015

Menjelajahi negeri Dongeng di Colmar, Perancis







Perancis terkenal dengan kota Paris yang romantis dengan menara Eiffelnya yang menawan, tetapi Perancis tidak hanya terkenal dengan kota Paris saja, ada begitu banyak daerah dan kota-kota cantik bak dinegeri dongeng, salah satunya adalah kota Colmar.

Colmar adalah kota cantik yang terletak di region Alsace, timur laut Perancis dan berbatasan dengan Jerman, 3 jam dari Paris dengan kereta cepat. Kota ini mulai berkembang di abad ke 9, dan masuk wilayah Jerman pada tahun 1871 dan diserahkan kembali ke Perancis setelah perjanjian Versailles tahun 1918; kemudian direbut kembali tahun 1940 oleh Nazi Jerman, sampai direbut Perancis kembali tahun 1945. Colmar juga merupakan salah satu kota penghasil anggur yang terkenal, bahkan disebut sebagai ibu kota anggur Alsace. 






Ketika kami akan memasuki kota ini dari jalan raya, saya melihat sebuah patung liberty di persimpangan jalan, jangan heran karena kota ini adalah tempat kelahiran Frederic Auguste Bartholdi, seorang pemahat terkenal Perancis yang mendesain patung Liberty hadiah pemerintah Perancis untuk Amerika. Rumah kelahirannya saat ini dijadikan museum Bartholdi, menampilkan beberapa lukisan hasil karyanya, benda-benda keluarganya dan furniture serta beberapa patung. 



 




Saat menginjakkan kaki dalam kota, suasana di kota tua seakan-akan membawa kita ke kota di negeri dongeng, dan saya teringat tempat-tempat indah dalam film animasi Disney, salah satunya suasana desa dalam cerita 'Beauty and the Beast', yah seperti itulah keindahan kota ini, dimana kita dimanjakan dengan pemandangan rumah-rumah dengan gaya arsitektur khas Alsacienne atau half-timbered houses (maison a colombages) yang cantik dan penuh warna warni, dengan gaya atap segitiga, bertingkat-tingkat dengan banyak jendela serta hiasan bunga-bunga yang indah di depan jendela, dan juga terdapat banyak palang kayu yang saling silang menyilang di dinding tiap bangunan.
Selain itu kota inipun terkenal dengan sebutan 'Petite Venice' (little venice), karena kita dapat menyusuri keindahan kota ini dengan perahu kecil dengan harga 6 euro, yang melewati kanal-kanal dari aliran sungai Lauch. Selain itu bagi yang tidak mempunyai waktu banyak atau malas jalan kaki, bisa menggunakan kereta wisata mini untuk berkeliling. Dan kami lebih menikmati jalan kaki menyusuri tiap sudut kota dongeng ini.


 kereta wisata





 Le Koïfhus


 
Satu lagi keunikkan kota ini dan Alsace umumnya, bahwa selama berabad-abad burung bangau telah menjadi bagian dari wilayah ini, yang melambangkan kebahagiaan, kesetiaan dan pembawa keberuntungan dan kesuburan. Bahkan banyak legenda dan cerita rakyat tentang burung bangau yang membawa bayi-bayi bagi tiap keluarga. Karena hal ini makanya banyak atap atau cerobong asap dikhususkan bagi sarang burung bangau.






Selama mengelilingi kota ini, tidak lelahnya saya menjepret tiap saat, betapa tidak, hampir tiap jengkal tempat ini sangat indah dan fotogenik serta artistik. Selain deretan rumah yang indah dan penuh warna warni, juga terdapat beberapa air mancur kecil dengan patung yang unik, lampu-lampu jalanan yang klasik, serta jalan batu sempit khas pedesaan abad pertengahan. Walaupun kota tua ini penuh bangunan tua dengan jalanan yang sempit, tetapi semuanya tertata dengan rapi dan indah. Dan bila lelah berkeliling, terdapat begitu banyak cafe-cafe di kota ini dimana kita dapat menikmati berbagai jenis makanan atau hanya secangkir teh atau kopi sambil menikmati suasana santai dengan pemandangan rumah-rumah yang indah. Dan semakin malam keindahan kota inipun semakin bersinar, ahhhh.... bagaimana saya dapat menolak keindahan kota ini dan keromantisannya, hingga Segala imajinasi tentang negeri dongeng serasa menjadi nyata.



 Narsis di depan Schwendi fountain



Maison de Tête  (House of heads)



 Roesselmann fountain



Interior Gereja St. Martin







Oh iya untuk sampai ke Colmar dari paris, anda dapat naik kereta cepat TGV dari gare de L'est.





 

Monday, 9 February 2015

SURGA BELANJA DI PARIS






Sebagai kota mode dunia, Paris menawarkan banyak tempat berbelanja, mulai dari butik kelas dunia dengan harga wah, hingga barang murah meriah.
Bagi orang Perancis sendiri, waktu yang tepat untuk belanja adalah pada saat Solde atau Sale, karena pada saat itu akan digelar diskon besar-besaran, hingga 80%. Adapun saat sale diadakan dua kali dalam setahun, yang jatuh pada bulan Juni-Juli untuk Summer Sale dan bulan Januari untuk Winter Sale. Sale disini di bagi 3 session, session awal discount mulai 20%, session kedua biasanya 2 minggu sesudahnya, discount mulai 30%-40%, dan session terakhir 50%-70% bahkan 80%, tapi pada session ke dua biasanya barang yang bagus sudah habis duluan.
Nah bagi yang datang ke Paris di luar bulan-bulan sale, bisa mendatangi tempat-tempat belanja yang sesuai dengan ukuran kantong masing-masing. Untuk Anda yang ingin menikmati kemewahan berbelanja di butik desainer kelas atas, bisa menuju Louvre-Tuileries, atau jika ingin mencari barang vintage berkualitas, Saint-Quen Flea Market adalah pilihan yang tepat. Dan bagi yang ingin berburu barang branded dengan harga miring bisa mendatangi factory outlet yang terdapat di La Vale Village dan Marques Avenue.

Berikut beberapa tempat belanja di Paris:

Louvre-Tuileries dan Faubourg Saint-Honore.
Faubourg Saint-Honore merupakan salah satu pusat mode di Paris dimana anda dapat menemukan berbagai rancangan busana Creme de la creme, furnitur unik, dan kosmetik dengan kualitas terbaik. Berlokasi di lingkungan Louvre-Tuileries dan hanya terletak beberapa blok dari Opera Garnier dan Paris department store di Boulevard Haussmann.
Di Saint-Honore ini Anda dapat menemukan berbagai macam brand kelas atas seperti Versace, Hermes, Yves Saint Laurent, dan Colette. 


Untuk menuju ke sana, bisa melalui Metro Concorde, Tuileries (Jalur 1), dan Pyramides (Jalur 7 dan 14).
Jalan utama: Rue du Faubourg Saint-Honore, Rue Saint-Honore, Rue de la Paix, Place Vendome. 

Paris Department Stores District - Boulevard Haussmann
Pusat perbelanjaan ini merupakan salah satu tujuan wajib bagi para turis untuk berbelanja. Di sini Anda bisa menemukan berbagai jenis barang mulai dari fashion, kuliner khas Paris, desain rumah, bahkan perhiasan. Di pusat perbelanjaan ini, Galeries Lafayette dan Printemps department store mendominasi Boulevard Haussmann dengan kemegahan asli dari Belle Epoque.
Galeries Lafayette adalah salah satu tempat belanja yang saya sukai karena design interior bangunan ini yang menakjubkan, dan salah satu yang saya kagumi adalah kubah bangunan yang terbuat dari kaca yang megah.

Untuk menuju ke sini anda bisa naik metro dari Metro Havre-Caumartin (Jalur 3 atau 9), Opera (Jalur 3, 7, 8), atau RER Auber (Jalur A).
Jalan utama: Boulevard Haussmann.





        Interior Galeries Lafayette

 

Avenue Montaigne dan Avenue des Champs-Elysees
Tempat ini adalah pusatnya para pecinta fashion. Di tempat ini Anda akan menemukan berbagai macam rancangan desainer legendaris seperti Chanel, Louis Vuitton dan Dior di sepanjang jalannya. Champs-Elysees juga sebagai salah satu tempat wisata favorite dari seluruh dunia.

Untuk mencapai tempat ini anda bisa naik Metro Alma Marceau (Jalur 9), Franklin D. Roosevelt (Jalur 1 dan 9), George V (Jalur 1), dan RER A (Charles de Gaulle Etoile-).


Avenue Champs-Elysees


The Marais
Bagi para pecinta seni dan kolektor barang-barang yang unik, The Marais adalah tempat yang tepat. Di sana Anda bisa menemukan beragam produk fashion yang tidak biasa, perhiasan unik dan berbagai barang antik, serta seni rupa lainnya. Cobalah belanja barang antik atau seni rupa di Place des Vosges, selain barang antik, di sini andapun dapat menemukan butik mewah Isye Miyake, Maison de Victor Hugo,dan restoran mewah. Selain itu anda dapat manjakan mata dengan berbelanja perhiasan di butik-butik seperti Rue des Francs-Bourgeois. Sedikit info le Marais

Metro Saint-Paul (Jalur 1) atau Hotel de Ville (Jalur 1 dan 11).
Jalan utama: Rue des Francs-Bourgeois, Place des Vosges, Rue de Turenne, Rue des Rosiers









Saint-Quen Flea Market
Bagi yang ingin belanja murah unik dan meriah, Paris Flea Market (Marchê aux Puces de Saint Quen) mungkin bisa menjadi pilihan. Ini pasar loak paling terkenal di Paris,sekaligus terbesar di dunia.Begitu besarnya hingga jika diukur panjangnya bisa mencapai 15 km.Paris Flea Market letaknya di Clignancourt.Pengunjung maupun turis bisa berburu apa pun barang murah meriah,mulai pakaian,barang seni,sampai barang antik.Ada 3.000 pedagang yang berjualan di sini.
Jika beruntung, Anda juga bisa menemukan barang-barang branded dengan harga murah.

Metro Porte de Clingancourt (Jalur 4), atau Garibaldi (Jalur 13).

Les Halles dan Rue de Rivoli
Inilah tempat belanja favorite saya, karena sesuai kantong saya yang pas-pasan.
Les Halles adalah pusat perbelanjaan bawah tanah yang diresmikan sebagai daerah perbelanjaan utama pada abad 20. Di areal belanja ini anda bisa menemukan Zara, H&M, bahkan toko sepatu Batapun ada di sini.
Begitu juga dengan Rue de Rivoli, di daerah Rue Montorgueil. Beragam butik kontemporer unik ada di sana, termasuk Barbara Bui dan karya-karya desainer muda di Paris, bahkan barang made in China ataupun dari negara lain bisa kita temukan di sini. Dan bagi yang ingin berburu suvenir khas Perancis bisa ditemukan disini.

Untuk sampai kesana, Anda bisa menuju Metro Chatelet-Les Halles (Jalur 4, RER A, B).
Jalan utama: Rue de Rivoli, Rue Pierre-Lescot, Rue Etienne Marcel, dan Rue de Turbigo.


Les Halles







Selain tempat-tempat belanja yang saya sebutkan diatas, Paris juga terdapat dua tempat Factory Outlet. Factory outlet disini beda dengan yang ada di Jakarta atau Bandung. FO disini hanya menjual barang-barang ber-merek dan bukan barang bekas import, tapi barang yang memang tidak laku pada tahun sebelumnya atau musim sebelumnya, jadi kwalitasnya sama persis dengan yang jual hanya agak sedikit out of date dan dengan harga miring tentunya.

La Valle Vilage
FO ini sebenarnya terletak diluar kota Paris, tetapi anda akan mudah menjangkaunya dengan menggunakan kereta api atau dengan Shopping Express shuttle service, dari Paris ke La Vallée Village, 2 kali sehari. Shuttle bus ini dari Place des Pyramides pada jam 9.30 dan 12.30 dan dari La Vallée Village pada jam 14.30 dan 17.00 (45 menit waktu tempuh ).
Bila menggunakan kereta api, anda dapat naik dari Paris bisa naik RER A dengan jurusan Parc Disneyland atau Disneyland Park, dan berhenti di statiun Val D'Europe atau satu stasiun sebelum Disneyland. Factory outlet ini buka setiap hari dari jam 10.00 pagi sampai jam 20.00 Malam, termasuk hari minggu juga, tetapi akan tutup tiga kali dalam setahun yaitu: 25/12, 01/01, 01/05. Kalau anda kesini ada sedikit trik untuk mengetahui factory outlet ini, begitu keluar dari stasiun Val D'europe anda langsung masuk ke dalam Centre commerciel atau Mall, ini seperti kebanyakan Mall di Jakarta, tapi FO bukan di sini, jadi anda bisa jalan terus di dalam mall sampai bagian paling ujung, kemudian nanti akan ketemu dengan food court dan, setelah ketemu food court anda terus saja dan barulah memasuki kawasan FO. konsep toko disini cukup menarik karena setiap brand memiliki toko sendiri bergaya rumah modern. Di FO ini anda bisa menemukan brand seperti, Longchamp, Guess, Kenzo, Diane Von furs tenberg, Jimmy Choo dll. 








Marques Avenue
FO satu ini masih berada dalam kota Paris, anda dapat mencapainya dengan metro no.13 jurusan Saint Denis, dan berhenti di stasiun Marie de Saint Queen. Terus dari sini anda coba cari restoran Quick, dan terus menyebrang dari restoran Quick. Anda bisa Naik Bus No. 166 atau No. 137 Jurusan Colombes, dan anda harus turun di bus stop Marcel Paul, atau halte bus ke empat dari tempat halte bus anda. Dari sini nanti ada kelihatan Plang Marques Aveneu, jalan kaki kurang lebih 900 meter. Jangan lupa membawa peta Paris dan bus dan metro, untuk memudahkan mencari arah jalur.

Di Marques Avenue ini tidak semua barang bebas pajak, anda masih kena pajak 19%, tapi memang ada beberapa toko yang tax free walaupun barang tersebut masih kena pajak, tetapi masih lebih murah dari harga toko di Paris. Sedangkan di La Valle Vilage hampir semuanya bebas pajak, dan juga lebih murah 30-50% dari harga di Paris serta juga ada layanan penggantian pajak bagi pengunjung non-Uni Eropa.

Jadi, bila mengunjungi Paris, silahkan memilih dimana anda ingin berbelanja, dan membeli oleh-oleh tentunya.




*Info dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi.


Happy Traveling.... And Happy Shopping....

Wednesday, 4 February 2015

Yuk, Menyusuri Djakarta Tempo Doeloe






Kota Jakarta dengan 487 tahun sejarah sejak Pangeran Fatahillah merebut kota ini yang ketika itu bernama Batavia dari pendudukan Belanda, 22 Juni 1527, kota pantai ini terus menjadi salah satu kota perdagangan nasional, dan terus bertransformasi menjadi kota megapolitan. Bangunan pencakar langit, aneka mall dan plaza, dan berbagai pusat perbelanjaan mewah dengan kehidupan malam yang kental terus berdenyut di ibu kota Indonesia ini.


Dengan rutinitas yang serba modern, dan kehidupan yang serba cepat, kadang menjenuhkan, dan bila kejenuhan itu datang, nah bagi saya, obatnya tidak perlu lari terlalu jauh, cukup ke kota Tua, yang terletak diantara Jakarta Utara dan jakarta Barat. Menyusuri kawasan kota tua ini, terasa menyusuri kehidupan Jakarta Tempo Dulu, yang masih kaya akan bangunan-bangunan tua peninggalan di masa penjajahan Belanda. Adapun daya tarik utama di kawasan kota tua ini adalah museum-museum yang letaknya saling berdekatan, sehingga pengunjung bisa mencapainya dengan berjalan kaki dari satu museum ke museum lainnya. Di kawasan kota tua ini terdapat 5 museum, yaitu museum Fatahillah, museum bank Mandiri, museum bank Indonesia, museum Seni Rupa dan Kerami Indonesia dan museum Wayang. 


 Museum Fatahillah


Salah satu museum yang selalu menarik hati saya untuk selalu ke sana dan mengabadikannya lewat kamera adalah museum Fatahillah. Bangunan megah peninggalan Belanda ini dibangun pada tahun 1627, diperuntukkan sebagai balai kota pemerintah Belanda. Bangunan ini juga terdapat penjara bawah tanah, serta halaman yang luas pada bangunan ini digunakan sebagai tempat hukuman mati para tahanan. Bangunan yang megah ini mempunyai jendela yang tinggi dan lebar serta pilar-pilar bangunan yang megah. Di halaman dalam gedung ini terdapat sebuah meriam dengan bentuk yang unik, yaitu meriam sijagur, dimana dikatakan meriam ini mempunyai kekuatan fertilitas, konon bagi pria atau wanita yang kurang subur bila menyentuh meriam ini bisa segera mendapat anak. Dan tentu saja sayapun penasaran dan tidak lupa menyentuhnya..... 


 Si Jagur


Setelah dari museum Fatahilah, bagi yang lapar dapat mencoba kulinari di cafe Batavia, tepat di seberang museum Fatahillah. Bangunan tua ini mempunyai keunikkan interior yang penuh dengan foto-foto memorabilia bintang kenamaan jaman dulu dari dalam negeri dan luar negeri. Dari foto James Dean muda hingga foto Bung Karno dan juga R.A Kartini dapat kita nikmati.



Narsis di Cafe Batavia


Di depan cafe Batavia terdapat banyak penyewaan sepeda onthel, dan kita juga bisa naik ojeg sepeda untuk keliling kawasan kota tua ini, dan sayapun penyewa ojeg sepeda untuk berkeliling hingga sampai ke pelabuhan Sunda Kelapa. 
Ketika sampai di pelabuhan ini, deretan kapal-kapal layar tradisional sedang bersandar di dermaga menjadi pemandangan yang menakjubkan serasa masa tempo dulu. Adapun keunikkan kapal-kapal ini adalah tangga naik ke perahu yang berupa log kayu, yang hanya selebar satu telapak kaki saja. Ketika para pengangkut sedang membongkar muatan, dan mengangkut dengan beban di pundak sambil meniti log kayu ini, ada rasa ngeri di dada ketika melihat bagaiman mereka berjalan di log kayu yang berayun naik turun waktu diinjak oleh para pengangkut yang sedang melewatinya, serasa ada suatu irama dalam denyutan di tiap pijakkan kaki mereka, sungguh hebat. Dan sayapun mencoba naik ke atas perahu dengan meniti log kayu itu, benar-benar sungguh menguji adrenalin, dan ketika akan turun, nyali sayapun menciut dan saya tidak dapat berjalan, akhirnya sayapun dituntun oleh dua orang pekerja depan belakang hingga sampai di bawah..... Dan itulah pengalaman pertama dan terakhir saya meniti log kayu di pelabuhan Sunda Kelapa.



 Penyewaan sepeda Onthel



 Kapal2 yg bersandar dgn log kayu



 Kapal Phinisi


Dan terakhir sebelum mengakhiri perjalanan di kota tua, sayapun menuju ke jembatan Kota Intan yang terletak di jalan Kali Besar Barat, tidak jauh dari museum Fatahillah. Jembatan 'jungkit' yang dibangun pada tahun 1628 pada masa kolonial Belanda ini adalah sebagai penghubung antara benteng Belanda (VOC) dan Inggris (IEC) yang saat itu berseberangan dan dibatasi oleh Kali Besar.
Sayangnya jembatan yang berumur lebih dari 300 tahun ini kondisinya memprihatinkan karena warnanya telah pudar dan kayunyapun keropos dimakan zaman. 



 Jembatan Kota Intan

 
Jembatan Kota Intan di malam hari


Itulah sebagian kecil dari kawasan kota tua, dan masih banyak lagi bangunan-bangunan tua lainnya yang dapat dinikmati...





Friday, 23 January 2015

Menjelajahi Surga Situs Megalitik di Carnac, Perancis








Carnac adalah sebuah kota kecil di wilayah Mobihan, region Bretagne/Brittany, Barat Laut Perancis. Meskipun kecil, kota ini adalah surganya situs megalitik yang paling penting di Eropa serta merupakan barisan bebatuan terbesar di dunia, sebuah situs batuan prasejarah dan situs wisata yang berusia lebih dari 3.000 tahun.



Ketika kami tiba di kota ini, formasi bebatuan kuno langsung menyambut kami. Sebuah pemandangan yang menawan dengan barisan batu-batu yang sangat banyak, yang terdiri dari batuan kecil hingga besar dengan alignment (deretan batu) yang berbaris rapi. Pemandangan ini membuat saya kagum akan orang prasejarah yang membangun formasi bebatuan ini.

Batuan Carnac yang menjadi lokasi wisata Neolitik ini dipahat dari batu lokal dan didirikan oleh masyarakat pra-celtic Brittany. Formasi batuan Carnac ini terdiri dari satu batu berdiri tunggal (menhir) dan kelompok bebatuan (dolmen), serta tumuli (gundukan tanah yang dibangun diatas kuburan). 



 Pemandangan yg kami lihat


 Bermain di batu menhir


 Dolmen


 
Ada tiga kelompok barisan bebatuan di Carnac yaitu: Ménec, Kermario, dan Kerlescan.

Kelompok Ménec dengan panjang barisan 1.165m dan lebar 100m, yang berisi 1099 bebatuan dan terbagi dalam 11 barisan. Ukuran menhir tertinggi adalah 4m.

Kelompok Kermario mempunyai 1.029 menhir yang berbaris sejauh 1.120m, dan lebar 100m dengan jumlah 10 barisan.

Dan kelompok Kerlescan hanya terdapat 555 menhir dengan barisan sejauh 800m, dan terbagi dalam 13 barisan.


 Barisan bebatuan

 
Selama berada di sini, kami mengelilingi setiap sudut barisan bebatuan yang unik ini, dan kita juga dapat melihat barisan bebatuan yang tersusun rapi ini dari sebuah menara yang tidak begitu tinggi. Dan sambil menikmati formasi bebatuan ini saya teringat akan komik Asterix dan Obelix, mungkin bebatuan di Carnac inilah yang mengilhami René Goscinny?

Dan tidak ada yang tahu pasti untuk apa dan tujuan apa batu tersebut dibuat dengan barisan yang begitu rapi. Banyak yang berpendapat bahwa batu-batu tersebut dibuat untuk tujuan religius seperti menghormati arwah nenek moyang mereka. Bahkan ada pula legenda masyarakat setempat yang menyebutkan bahwa alasan batuan ini berdiri dalam garis luris karena batu-batu ini dulunya adalah tentara legium Romawi yang berubah menjadi batu setelah dikutuk oleh penyihir Merlin. Apapun cerita dan legenda tentang bebatuan di carnac ini, hingga sekarang tetap menjadi misteri.



 Menara pendek


 Bebatuan yg berbaris rapi


Setelah puas mengelilingi bebatuan kuno ini, kamipun mengunjungi museum megalitik, yang banyak menjelaskan tentang bebatuan serta di daerah mana saja dan juga jenis-jenis kelompoknya. Setelah itu kami mampir ke sebuah toko suvenir, dan di dalam toko saya menemukan banyak sekali oleh-oleh yang berkaitan dengan cerita legenda, seperti peri, penyihir Merlin dengan raja Arthur. 

Setelah membeli beberapa suvenir, kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke Quiberon, sebuah semenanjung dengan pemandangan yang spektakuler.





Thursday, 15 January 2015

Avignon, Kota Benteng Yang Indah






Sur le pont d'Avignon,
On y danse, on y danse,
Sur le pont d'Avignon,
On y danse, tous en rond.



Sepenggal lagu anak-anak Avignon terdengar di hari pertama ketika kami dalam kereta turis yang mengelilingi kota tua Avignon yang terletak dalam benteng tua. Avignon terletak di selatan Perancis, tepatnya di region Provence, dari paris kira-kira hampir 3 jam dengan kereta TGV. Kota ini yang dikenal dengan nama "Cité des Papes (City of Popes)", adalah sebuah kota abad pertengahan yang indah, kaya akan peninggalan harta budaya serta bangunan tua yang masih terpelihara dan masih digunakan hingga kini. Setelah kami selesai tur dengan kereta turis, kamipun mulai berjalan mengelilingi kota tua ini untuk melihat lebih dekat akan keindahan kota tua Avignon.



Pertama-tama kita mengunjungi Palais des Papes (palace of the Popes atau Istana Kepausan), yang merupakan landmark kota ini dan juga merupakan situs warisan dunia UNESCO. Pada abad ke-14 Palais des Papes sangatlah penting, karena merupakan tempat tinggal utama Paus pada zaman itu. Dari luar bangunan ini lebih berbentuk benteng daripada istana, dan bagian dalamnya mempunyai 25 ruangan dengan lukisan gaya Italia yang memukau mata. Dan istana kepausan ini dikelilingi oleh taman botanical yang cukup luas, bila berjalan hingga ke puncak dari taman ini, kita akan menemukan tempat bernama Rocher des Doms, dimana kita dapat memandang panorama kota Avignon dan sungai Rhône yang indah termasuk Pont St Bénézet/ jembatan St Bénézet atau yang lebih dikenal dengan jembatan Avignon, dan Ile de la Barthelasse atau pulau Barthelasse. Serta kita bisa juga melihat pemandangan ke daerah seberangnya yaitu Villeneuve lez Avignon/ kota baru Avignon. Di kota baru Avignon ini terdapat biara Chartruese Notre Dame Du Val de Benediction, serta sebuah benteng pertahanan yang terletak diatas bukit, Fort Saint André/ Benteng Saint André. Dulunya benteng ini digunakan sebagai tempat perlindungan perbatasan kerajaan Perancis. Diujung benteng ini terdapat menara Philippe le Bel yang dibangun pada tahun 1293 dan 1307. Menara ini diperuntukkan untuk mengawasi jembatan Avignon yang menghubungkan wilayah Perancis pada masa itu.

Selaian pemandangan yang bisa kita lihat dari Rocher des Doms, di taman ini juga terdapat sebuah kolam dengan patung perunggu venus di tengahnya, dan juga sebuah sebuah cafe serta tempat bermain untuk anak-anak.




Penampakkan Benteng dr luar




 Jalan tua dgn kanal dan kincir air



 Jembatan Avignon



 Benteng Saint André



 kolam dgn cafe di Rocher des Dom



Taman botanical sbg tempat beristirahat bagi turis & Masyarakat setempat


 
Setelah dari Rocher des Doms, kitapun turun ke Place d'Horloge, sebuah alun-alun yang ramai dan penuh dengan cafe-cafe dan restaurant dengan naungan pohon-pohon yang rindang. Di alun-alun ini kita dapat melihat banyak bangunan tua yang tidak kalah indah arsitekturnya, balai kota dengan jam yang dibangun tahun 1471 , theater, dll.

Dan kitapun beristirahat dan makan siang di tempat ini. Di ujung jalan dari Place d'Harloge ini terdapat sebuah komidi putar yang berwarna warni, dan anak sayapunpun menikmati bermain komidi putar sebelum akhirnya kita melanjutkan perjalanan. Ketika sedang menikmati makan siang, tiba-tiba datang dua orang polisi yang mengusir pengamen jalanan. Rupanya ada larangan di place d'Horloge tidak boleh ada pengamen atau sejenisnya.



  Place d'Horloge



Balai kota


 Theatre


 pengamen terlarang di Place d'Horloge


Selesai makan siang, kamipun lanjut menuju ke jembatan Avignon, jembatan yang terkenal dengan lagunya 'Sur le pont d'Avignon'. Sepanjang jalan kami melewati jalan-jalan tua dengan jejeran pohon dan kanal kecil dengan kincir air tua dan di sisi lainnya deretan bangunan tua yang unik, Jembatan Avignon terdapat diluar dari benteng kokoh yang mengelilingi kota tua ini.

Jembatan ini di dirikan pada tahun 1177, yang awalnya terbuat dari kayu dan beberapa kali terjadi perubahan hingga akhirnya mengalami kehancuran akibat banjir dari Sungai Rhône serta perang. Dan sekarang hanya tinggal separuhnya yang masih dapat kita saksikan dengan sebuah kapel kecilnya, Jembatan ini juga masuk dalam warisan UNESCO.




 Avignon juga terkenal akan festival tahunannya, Festival d'Avignon, yang merupakan festival seni terbesar, yang menarik minat ratusan ribu pengunjung untuk melihat pertunjukan teater, tari, film, dan pertunjukan jalanan, yang diadakan pada saat musim panas. Kita dapat menikmati festival ini di alam terbuka yang tanpa biaya, ataupun di gedung dengan membeli tiket dengan harga tertentu.



Setelah puas mengelilingi kota ini, kamipun tidak lupa masuk ke toko-toko souvenir yang berjajar di setiap sudut kota. Hal yang terkenal dari daerah ini adalah tanaman lavender, berbagai jenis barang yang terbuat dari lavender, dari pengharum ruangan, sabun, dekorasi ruangan, bahkan beberapa makanan juga ada campuran lavender.

Adapaun perkebunan lavender yang terkenal di Provence terletak di Plateau de Valensole dan Plateau de Sault, tetapi sayang kami datang tidak pada saat lavender berbunga. Jadi kami hanya bisa nikmati sovenir yang terbuat dari lavender saja.



Oh iya, kota Avignon juga merupakan salah satu kota yang dilewati tour dari Indonesia.



Salah satu jalan di pusat perbelanjaan


Toko suvenir


Adapun cara ke Avignon dari Paris:



Dengan kereta cepat TGV dari Gare de Lyon (2 jam 37 menit perjalanan).

Dan juga dari bandara Charles de Gaulle dengan TGV langsung ke Avignon (sekitar 3 jam perjalanan).

Karena kami membawa 2 anak balita, maka kami memakai kendaraan pribadi, dan untuk mencari parkiran di sekitar Avignon sangat sulit sekali, kadang waktu habis hanya untuk mencari tempat kosong.


Perjalanan berikutnya Pont Du Gard, Nîmes dan Orange.




HAPPY TRAVELING....