Friday, 18 December 2015

Amazing Lombok






Pulau Lombok, siapa yang tidak kenal pulau satu ini, tetangga dari pulau Bali. Pulau dengan luas 4.725 km² ini tidak hanya terkenal dengan gunung Rinjaninya, tetapi terkenal juga dengan keindahan bahari dan budayanya. Termasuk juga gugusan kepulauan di sisi Barat lautnya yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan.

Perjalanan dari Bandara International Lombok menuju ke Pantai Senggigi dimana saya menginap dapat ditempuh dengan taxi ataupun dengan Damri dengan membayar Rp.35.000, sekitar satu jam lebih. Dan ketika mobil yang saya tumpangi mulai memasuki wilayah Senggigi, dari jauh saya sudah melihat keindahan pantai ini. Beberapa nelayan sedang menarik jaring dari laut hingga ke pantai, dan juga beberapa turis sedang berjalan menyusuri pantai., Dan rasanya tidak sabar ingin cepat sampai di hotel lalu menginjakkan kaki di pantai yang indah ini. Setelah meletakkan tas dan ransel di hotel, tanpa menunggu lama sayapun mulai menyusuri pantai. Ketika hari mulai senja dan matahari mulai kembali ke peraduannya, sayapun berharap dapat menikmati pemandangan sunset di pantai ini, tetapi sayang, pemandangan matahari terbenam terhalang oleh perbukitan, jadi saya hanya menikmati bias dari cahaya sang surya saat kembali ke peraduannya.
Dalam perjalanan kembali ke hotel, saya menemukan banyak restauran dan cafe sepanjang jalan Senggigi, semakin malam semakin ramai. Dan sayapun mencoba salah satu restaurant di sepanjang jalan ini. Selesai menikmati makan malam, saya kembali ke hotel dengan naik cidomo, walau hampir sama dengan kereta kuda di Jogja, tetapi cidomo design interior lebih seperti angkot. Sesampai di hotel, sayapun langsung beristirahat, karena esok hari akan menjelajah ke kawasan selatan Lombok.










Hari kedua, setelah sarapan di hotel, sayapun mulai menuju ke list berikutnya, Pantai Tanjung Aan dan pantai Kuta, yang terletak di selatan pulau Lombok. Perjalanan ke pantai Kuta dari Senggigi sekitar 1- 2 jam dengan mobil ataupun motor. Pantai kuta di Lombok sangatlah berbeda dengan pantai Kuta di Bali. Pantai Kuta di Lombok lebih sepi, tidak terdapat deretan hotel dan pantainyapun lebih bersih.

Sebelum sampai di Pantai Kuta, saya mampir di desa Banyumulek, sebuah desa penghasil kerajinan gerabah. Kerajinan ini di turunkan dari generasi ke generasi, dan desa Banyumulek merupakan salah satu tempat wisata yang diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Ketika kaki mulai masuki desa ini, pemandangan gerabah dari ukuran kecil hinggaa setinggi manusia terdapat di mana-mana. Tidak hanya di rumah penduduk, tetapi juga terdapat di balai desa, dan sekolah, sehingga kesan desa sentra gerabah sangat kental di sini.
Di sepanjang jalan desa terdapat banyak galeri dan toko di sisi kiri kanan jalan, dan koleksinyapun cukup lengkap, gerabah dengan berbagai ukuran, bentuk, warna, motif hiasan serta berbagai jenis fungsi dari gerabah itu sendiri. Dan hasil gerabah dari desa Banyumulek tidak hanya bermain di pasar nasional saja, tetapi sudah merambah hingga ke manca negara seperti New Zealand and beberapa negara Eropa.

Setelah menikmati gerabah di sebuah galeri sayapun lanjut ke sebuah rumah penduduk untuk melihat langsung pembuatan gerabah. Hampir di depan setiap rumah terdapat tanah liat yang sedang di jemur ataupun masih dalam karung. Ketika masuk ke sebuah rumah, seorang wanita muda sedang memoles sebuah gentong dengan ukuran besar yang sudah jadi. Sepertinya ia sedang memuluskan permukaan gentong. Lalu saya berjalan ke ruangan lain, dimana seorang perempuan muda juga sedang membentuk vas bunga ukuran cukup besar, sambil sekali-kali diputar dan di tempel dengan tanah liat, sungguh cekatan sekali. Dan di ruangan lain seorang wanita cukup berumur sedang memoles sebuah wajan. Sepertinya ini adalah bagian finishing sebelum masuk ke pembakaran. Dan di bagian luar rumah terdapat sebuah tempat pembakaran yang sangat serderhana, masih dengan sistem pembakaran dengan daun-daun kering. Walalupun terlihat sangat sederhana pembuatannya, tetapi cukup rumit dan usaha yang cukup keras hanya untuk hasilkan sebuah gerabah. Di akhir kunjungan, sayapun membeli beberapa gerabah dekorasi dinding dan kendi.


















Setelah dari desa Banyumulek, sayapun lanjut ke desa Sukarara, sebuah desa penghasil kain tenun traditional Lombok. Bila di desa Banyumulek, sepanjang jalan yang terlihat kerajinan gerabah, nah kali ini yang terpampang di setiap rumah dan bale adalah kerajinan kain tenun dengan berbagai ukuran dan corak, sungguh indah sekali. Dan sayapun bertemu seorang wanita muda sedang menenun diatas bale depan rumahnya, sedangkan di dalam rumah adalah galeri hasil kain tenun. Sayapun sangat menikmati cara kerja wanita ini, bagaimana dia duduk berjam-jam untuk menenun dan menghasilkan sebuah kain yang indah. Dan karena penasaran sayapun mencoba menenun, duduk dengan pinggang ditopang sebuah kayu, memutar benang dengan berbagai warna, lalu memukulkan kayu untuk merapatkan benang. Ahhhhh sungguh rumit dan penuh ketelitian serta kesabaran untuk menenun secara tradisional, dan sayapun berpikir, berapa hari atau bahkan bulan hanya untuk hasilkan sebuah kain tenun? Sungguh salut akan keuletan para penduduk di desa Sukarara ini. dan seorang turis manca negarapun mencoba menenun, dan dia terlihat sangat serius dan akhirnya menyerah juga.

Ada beberapa macam motif kain tenun Lombok, diantaranya, motif Keker, Serat Penginang, Cungklik, dan lain sebagainya. Dan sayapun mencoba pakaian tradisional yang indah dan kaya warna ini, dan tentu saja tidak lupa membeli beberapa kain tenun untuk taplak meja yang cukup unik dan cantik. Perjalanan dilanjutkan mengelilingi disekitar desa, dimana-mana pemandangan warga desa sedang asyik bercengkrama tetapi disambi dengan bertenun. Pemandangan penduduk lokal yang harmoni antara kehidupan sehari-hari dengan pekerjaan sehari-hari, sungguh suatu kehidupan masyarakat yang akrab.










Setelah puas menikmati pemandangan kehidupan penduduk desa Sukarara, saya lanjut menuju ke desa Sade, suatu desa tradisional dengan kehidupan suku Sasak. Di depan pintu masuk utama terdapat papan nama dengan atap khas rumah Sasak yang tertulis, 'Welcome to Sade, Rembita'. Setelah kami memberi sumbangan sukarela untuk biaya masuk ke desa ini, kakipun melangkah dan melewati deretan rumah-rumah yang dibangun dengan sangat sederhana, beratap ilalang dan berdinding anyaman bambu. Dan hampir di setiap rumah penduduk menjual berbagai cinderamata khas Lombok, kain tenun dengan berbagai fungsi, gelang, kalung, dekorasi rumah dan lain sebagainya.



Dan ketika saya masuk ke salah satu rumah penduduk dimana berlantai tanah liat, saya harus menunduk karena bangunan rumah yang pendek. Dan secara turun temurun cara pembuatan rumah suku Sasak masih terpelihara dengan baik, dimana lantai terbuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Rumah yang berukuran 7 X 5 meter ini dibagi dalam dua ruangan, bale luar dan bale dalam. Bale luar digunakan sebagai ruang tamu dan tempat tidur laki-laki. Dan antara bale luar dan bale dalam terhubung dengan anak tangga yang berjumlah tiga, yang bermakna Wetu Telu dimana menurut kepercayaan suku Sasak hidup manusia itu termaknai dalam 3 tahapan yaitu lahir, berkembang dan mati. Di bale dalam ini terdapat tungku untuk memasak dan ruangan tidur untuk perempuan yang juga digunakan untuk ruangan melahirkan. Bale dalam tidak memiliki jendela dan penerangannya hanya berasal dari lampu yang terletak di pojok ruangan. 
 











Usai keliling desa Sade, sayapun melanjutkan perjalanan menuju ke Tanjung Aan.

Sebelum masuk ke Tanjung Aan, saya mampir di sebuah warung untuk makan siang, dan menu yang saya pesan tentu saja plecing kangkung dan ayam bakar taliwang. Setelah perut terisi, lanjut menuju ke pantai. Sebelum mencapai ke pantai, saya langsung diserbu para ibu-ibu penjual kain dan cinderamata. Bukan hanya satu atau dua penjual yang mengelilingi saya, tetapi lebih dari 6 orang. Dan sayapun akhirnya membeli beberapa kain hiasan dinding dan bufet yang berwarna warni. Mungkin bagi banyak wisatawan hal ini agak risih, tetapi bila kita berbincang dengan mereka dan kita akan tahu bahwa mata pencaharian mereka hanya dengan menjual hasil karya cinderamata dan kaos-kaos kepada wisatawan yang datang. Dan para ibu-ibu penjual ini sangat ramah dan suka melucu... Sayapun senang bercanda dengan mereka.



Ketika sampai di pantai Tanjung Aan, pemandangan laut hijau kebiruan, pantai pasir putih kekuningan, serta beberapa bukit terpadu sangat indah. Pantai yang bersih, air laut yang bening serta pasir yang berbeda dengan pasir di pantai lain. Butiran pasir yang berbentuk bulat sebesar biji merica sungguh mengagumkan. Dan saat kaki menginjak di pasir ini, sebagian kaki langsung tenggelam masuk ke dalam pasir. Dan tidak hanya itu saja, rupanya di pantai ini terdapat juga pasir putih yang sangat halus seperti tepung, dan antara pantai pasir merica dan pantai pasir tepung hanya dipisahkan oleh sebuah tanjung, unik ya. 
Dan karena keunikkan pasir merica ini, maka menjadi peluang usaha warga sekitar, anak-anak lokal menjajakan pasir merica ini dalam botol air mineral seharga Rp.10.000. 

Dan di Pantai Kutapun memiliki pemandangan yang sama indahnya, hanya di pantai Kuta sudah agak ramai turis. Antara pantai Tanjung Aan dan pantai Kuta masih saling terhubung dengan garis pantai yang sama.

Dipantai Kuta dan Tanjung Aan, para turis bisa berenang ataupun snorkeling, dan karena saya tidak membawa baju ganti, jadi hanya berjalan sambil menikmati indahnya pantai yang masih asri ini. Dan saya sangat menikmati keelokkan pantai Tanjung Aan dari puncak bukit yang menjorok ke laut, serta pemandangan penduduk lokal yang sedang mencari binatang laut di sela-sela bebatuan.  
Ahhhhh sutau tempat yang memberi ketenangan dan keindahan alam yang tiada taranya.














Setelah dari Pantai Tanjung Aan dan pantai Kuta, sayapun kembali ke hotel, karena besok akan menjelajahi pulau-pulau di sisi barat Lombok.




Wednesday, 16 December 2015

Canelés De Bordeaux, Si Manis Dari Bordeaux







Bordeaux selain terkenal akan wine, kebun anggur, bangunan tua nan indah, juga akan makanannya. Dan salah satu special pastry yang terkenal dari Bordeaux adalah Canelés de Bordeaux, juga dikenal sebagai cannelé Bordelais, adalah pastry Perancis yang magis, berbentuk cilinder yang beralur, kaya rum dan vanili dengan bagian luar yang dibalut karamel tipis. Canelés terbuat dari tepung terigu, telur, susu, gula dan diberi rasa rum dan vanila.

Si manis dari Bordeaux ini dapat kita temukan hampir di setiap toko kue di kota Bordeaux, dan yang terkenal adalah Baillardran. 
Sensasi menggigit canelés yang enak ini dimulai sejak gigitan pertama pada bagian luar yang manis karena balutan karamel, lalu bagian dalam yang lembut dengan rasa rum dan vanili. Bagi yang tidak suka rum, jangan kuatir, rasa rum di lidah tidak terasa pahit tetapi manis. 
Terdapat dua macam jenis canelés ini, lembut dan crunchy. 





 
Jadi bagi teman-teman yang sedang berkunjung ke Bordeaux, bisa mencoba canelés ini atau menikmati akhir hidangan dengan canelées dan ditemani secangkir red wine khas Bordeaux.

Oh iya, hidangan pastry inipun dapat ditemukan di kota Paris juga....

dan bagi teman-teman yang ingin membuatnya sendiri mungkin bisa mencoba resep ini:









Friday, 11 December 2015

Menyusuri Keindahan Lembah Aosta, Italia







Setelah perjalanan di wilayah Jungfrau (Lauterbrunnen, Murren, Interlaken dan Brienz) Swiss, kamipun melanjutkan trip musim gugur menuju ke Lembah Aosta di Italia, yang berbatasan dengan Swiss dan Perancis. Dalam perjalanan dari Swiss menuju ke Lembah Aosta, kami sangat menikmati pemandangan pegunungan dan lembah disepanjang jalan yang berkelok-kelok. Gunung yang berhiaskan salju di puncaknya, lembah nan indah dengan desa yang bertebaran disepanjang tebing, serta kawanan ternak di hamparan padang nan hijau. 




 Jalan pegunungan yang berkelok2 cukup tajam



Dan sebelum memasuki wilayah Italia, kami melewati terowongan jalan raya dengan sisi kanan yang terbuka, dimana kami dapat menikmati pemandangan danau dengan bendungannya yang megah.

Dan akhirnya kamipun mulai memasuki kawasan lembah Aosta, suatu lembah yang dikelilingi pegunungan: Cervino, Monte Rosa, Gran Paradiso dan Mont Blanc. Lembah Aosta adalah suatu region terkecil di Italia. Dan ibukota lembah Aosta dengan nama yang sama, Aosta.



Ketika sampai di hotel, hari telah menjelang sore, dan kamipun menikmati pemandangan pegunungan dan kota Aosta dari sekitar hotel. Setelah puas menikmati sore disekitar hotel, kami menuju rumah seorang teman dan makan malam dengan keluarga kecilnya. Dan setelah mengobrol, kamipun tahu bahwa di lembah ini bahasa yang di pakai selain Italia juga bahasa Perancis, maka tidak heran bila tanda jalan atau papan nama terdapat dua bahasa Italia dan Perancis.

Setelah makan malam kami kembali ke hotel dan beristirahat untuk mempersiapkan tenaga untuk perjalanan esok hari.



Pada keesokkan paginya, saat saya membuka jendela kamar, mata sayapun langsung segar dengan pemandangan pegunungan nan megah serta kota Aosta yang terletak di kaki pegunungan, sungguh mengagumkan pemandangan pagi yang tersaji. Dan kamipun menikmati pemandangan ini dengan sarapan di balkon hotel. 



 Pemandangan dari jendela hotel


Setelah sarapan, kamipun memulai perjalanan keliling kota Aosta. Kota yang dibangun pada masa Romawi pada tahun 25 sebelum masehi ini merupakan kota yang terletak di jantung lembah Aosta (580 m diatas permukaan laut), dan dilewati dua buah sungai serta dikelilingi pegunungan nan menjulang, Grand Combin dan gunung Velan diutara, Monte Emilius dan Becca di Nona di selatan, dan pegunungan Rutor di barat. Walalupun lembah Aosta adalah region terkecil di Italia, tetapi merupakan suatu region penghasil anggur serta menjadi resort ski yang dikagumi. 


Setelah kami memarkir mobil, perjalananpun dimulai dari pusat kota yang penuh dengan bangunan peninggalan Romawi. Disepanjang jalan pusat kota ini, kita temukan berbagai jenis toko di sisi kiri dan kanan jalan, toko suvenir, kue, baju, minuman, restaurant, cafe, dan lain-lain. 



 
Salah satu jalan di pusat kota


 
Dan disepanjang jalan ini juga kita dapat menikmati tiap bangunan peninggalan Romawi. 
Yang pertama kami lihat ketika memarkir mobil adalah Arch of Ausgustus, sebuah gapura Romawi yang dipersembahkan kepada kaisar Augustus. Gapura ini adalah sebagai jalan masuk ke pusat kota yang menuju ke  Arch of Ausgustus, suatu gerbang utama masuk ke kota Praitorian pada masa Romawi. Gerbang Praitorian ini mempunyai 3 pintu masuk yang berbentuk lengkungan, dua berbentuk kecil di kiri dan kanan serta satu besar terletak di tengah. Dan di gerbang ini pula kita dapat temukan office tourisrme, dimana bila membutuhkan informasi lebih lengkap tentang kota Aosta serta lembah nan cantik ini.



  Arch of Ausgustus





Praitoria Gate

 
Tidak jauh dari Praitoria Gate, kamipun bertemu sebuah menara berbentuk segi empat yang di bangun pada abad pertengahan, yaitu Tower of Signori Sancti Ursi. Dan di sebelah kiri dari menara ini terdapat reruntuhan teater Romawi, yang masih menyisakan dinding serta tempat duduk penonton yang terbuat dari batu. Walaupun arena ini tidak sehebat seperti Colosseum di Roma atau Arena di Nimes, tetapi sisa peninggalan bangunan ini menunjukkan akan kehebatan arena ini pada masanya. Adapun pada abad pertengahan, banyak rumah penduduk dibangun diatas arena ini sehingga sisa arena inipun ditelan oleh pemukiman penduduk. Akhirnya pemerintah merestorasi bangunan arena ini, dan merubuhkan rumah penduduk yang berdiri diatasnya.




 Tower of Signori Sancti Ursi




 Teater  Romawi




Reruntuhan Tempat duduk dlm teater

 
Setelah puas menikmati sisa Arena Romawi, kamipun menuju ke Town Hall/balai kota, bangunan megah bergaya neo clasiccal ini dibangun pada tahun 1839 dan berfungsi sebagai balai kota pada masa kini. setelah itu kamipun lanjut menuju ke Cathedral di Santa Maria Assunta, katedral yang telah berdiri sejak abad ke 4. Saya sangat mengagumi berbagai lukisan di sekitar pintu masuk, lukisan di dinding dengan berbagai warna nan indah. 

Dan di samping katedral terdapat sebuah situs yang sangat mengagumkan, sebuah harta karun yang terpendam, Criptoporticus. Bangunan yang berupa lorong ini terdapat di bawah tanah dengan mencakup wilayah yang cukup luas. Tetapi hanya sebagian kecil yang bisa dimasuki turis, dan lainnya masih dalam proses perbaikkan dan masih dalam penggalian. Dan belum ada info yang pasti apakah fungsi bangunan ini, ada yang mengatakan sebagai pasar tertutup, ada yang mengataan sebagai jalan ketika musim dingin dan sebagain mengatakan sebagai tempat militer. Apapun alasannya tempat ini wajib dikunjungi.



Cathedral di Santa Maria Assunta




 Lukisan dinding dipintu masuk katedral




 Criptoporticus




Setelah dari Criptoporticus kamipun lanjut berjalan di pusat kota ini sambil menikmati gelato khas Italia. Tidak jauh dari katedral terdapat gedung Balai Kota yang bergaya Neo Klasik dari tahun 1839, dan disebelahnya gedung Hotel des Etats yang saling berdampingan. Balai kota dan alun-alun sekitarnya dinamai Chanoux, yaitu seorang martir yang melawan penghancuran gereja San Francesco dan Friary, Emilio Chanoux.


Saat menyusuri jalanan di pusat kota, ketika melewati sebuah toko minuman, kamipun tertarik untuk membeli beberapa minuman khas Italia, Grappa dan Genepy praduksi Aosta, serta tegolose kue coklat khas Lembah Aosta. Minuman Grappa ada yang dicampur dengan bunga-bungaan, buah-buahan, bumbu, daun-daunan, bahkan ada yang di campur dengan ular! Cukup indah dan seram juga.


 Balai Kota



Minuman Grappa





Setelah keliling di kota Aosta, kamipun lanjut ke Château de Fénis/ Fenis Castle atau kastil Fenis, terletak di kota Fenis 13 km dari kota Aosta. Kastil dengan bentuk pentagon yang terkenal dengan banyak menara ini dibangun pada abad pertengahan, dan menara yang indah ditambahkan oleh Aimone of Challant pada abad ke-14.

Tiket masuk ke kastil ini 5.00 euro per orang dan dipandu oleh seorang guide dengan bahasa Italia atau Perancis. Ketika kaki menginjak di halaman depan kastil, dimana terdapat tangga naik ke atas kastil, saya berhenti dan terkagum-kagum dengan lukisan dinding yang menakjubkan. Lukisan satria berkuda yang sedang menyelamatkan seorang putri nan jelita, lukisan yang indah bagai dalam buku dongeng.

Didalam kastil terdapat ruang tidur, ruang tamu, ruang dapur serta kapel dilantai pertama, dan pada lantai bawah terdapat ruang makan, dapur serta beberapa senjata.




 Kastil Fenis



 Menikmati Lukisan Dinding




 
Usai tur di kastil Fenis, Saat matahari mulai kembali ke peraduannya, kamipun kembali ke pusat kota Aosta untuk menikmati suasana sore menjelang malam saat lampu sorot mulai memperlihatkan kemegahan pada tiap bangunan tua.








Dan pada keesokkannya, sebelum kembali ke Perancis, kami menyempatkan diri ke sebuah industri rumahan pembuatan keju dan juga industri rumahan pembuatan grappa. Kami sangat menikmati kunjungan ini, dimana kami dapat melihat dan belajar pembuatan keju secara tradisional dan juga pembuatan grappa, minuman khas Italia.




Industri Rumahan Pembuatan Keju


Oh ya satu pengalaman di pagi sebelum kita berangkat pulang, saat menunggu suami ke ATM, saya dan anak-anak menunggu di mobil dan kami melihat sebuah stand minuman susu segar. Untuk mendapat satu liter susu segar hanya memasukkan koin 1.00 euro saja. Ahhhh lumayan buat di jalan bila anak haus minuman segar nan sehat.





Happy Traveling....

Ngetrip ke mana lagi....
 

Friday, 4 December 2015

Bali, l'île des dieux à la beauté unique






Situé au centre de l'archipel indonésien, Bali possède une superficie de 5633 Km² pour environ 4 millions d'habitants. Bali, petite île par sa surface mais si grande par sa beauté et ses traditions, avec ses nombreux paysages de rizières en terrasse, de volcans et de montagnes, sans oublier ses plages avec du sable blanc ou volcanique ou de petites criques bordées de falaises, ses musiques et danses traditionnelles, pour le mode de vie de ses habitants tournés vers l 'amour de la nature et de l'art.

L'île des Dieux, comme on aime à la surnommer, est un véritable petit paradis qu'il est toujours passionnant de découvrir.
 
L'hindouisme, religion la plus répandue, est inséparable des Balinais. Dans un paysage constellé d'innombrable temples, les fêtes et cérémonies rythment la vie quotidienne. Ces fêtes sont autant d'occasions de célébrations artistiques car, ici, toute forme d'art est une offrande. 
 




Temple de Tanah Lot


Pantai Batu Bolong


Temple de Tanah Lot

Au sud de l'île, le Temple de Tanah Lot est le plus important édifice religieux dédié à la mer. Dressé au sommet d'un promontoire rocheux, il a été construit au XVIème siècle en hommage aux esprits de la mer. On vient l'admirer en fin d'après-midi, lorsque sa silhouette se détache de l'éclat de l'astre solaire. Selon la croyance, les serpents marins venimeux qui vivent au pied du rocher sont considérés comme les gardiens du temple, le protégeant des démons, intrus et autres esprits malfaisants.




Uluwatu

Uluwatu
 
Uluwatu est situé au point le plus sud de Bali, communément appelé De Bukit. La péninsule de calcaire, dit avoir été une fois sa propre masse terrestre indépendante, est l'un des points les plus élevés côtières de l'île avec des falaises balayant vers l'océan et une vue qui est magique.
 
Et pour les fan de surf, la plage d’Uluwatu Impossibles est considérée comme l’une des plus belles plages du monde de surf !




Temple Ulun Danu Bratan et le lac Bratan


Pura (Temple) Ulun Danu Bratan sur le Lac Bratan – Bedugul

Après Tanah Lot, c'est sans doute le temple le plus photographié de l'île et est certainement une des images emblématiques de Bali. Le temple est situé sur la rive ouest du lac Bratan et il peut donner lillusion de réalité flottant sur l'eau. Construit en 1633, le temple est dédié à Ida Batara Dewi Ulun Danu, déesse du lac. Un beau temple dans un cadre vraiment magnifique.




Les plages de Kuta


Les plages de Kuta


Les plages de Kuta

Kuta est l’une des plages les plus populaires de Bali, et le premier et le lieu le plus touristique de l’île. Au sud de Kuta, la plage est fermée par la piste de l’aéroport. La plage de sable blanc s’étend à des kilomètres au nord. Vous pourrez y pratiquer du surf, jouer au foot, bronzer, vous balader le long de la plage, prendre un verre au coucher du soleil…




Mont Batur et le Lac Batur

Kintamani

Kintamani désigne à la fois une région du nord est de Bali et un village de cette région dans laquelle se trouve le volcan Mont Batur.
La région de Kintamani fait pour moi partie des plus beaux endroits de Bali. Les paysages sont marqués par un relief découpé dominé par le Mont Batur, un volcan encore en activité aujourd’hui. Au pied du volcan s’étend le lac Batur




Promenade en vélo le long des cultures de riz a Ubud


Le magnifique hotel où nous avons séjourné à Ubud

Ubud

Ubud est le cœur culturel de Bali. Cette capitale des arts est restée, jusqu’à aujourd’hui, à la fois le berceau des traditions et le lieu d’épanouissement des pratiques créatives balinaises. C’est donc ici que vous pourrez assister à des représentations de wayang kulit, de théâtre ou de danse, découvrir la richesse de l’histoire de l’art indonésienne dans les nombreux musées d’Ubud et vous initier à l’artisanat local aux cotés des peintres, sculpteurs et orfèvres.



Dreamland Plage


Tegalalang Rizières


La cascade de Gitgit



La cascade de Mekalongan



Kecak Dance
Kecak Dance

Kecak est un choeur de percussions vocals composé d'une centaine d'hommes disposés en cercle. Il ranconte ub épisode de Ramayana où l'armée de singes de Hanuman aide Rama à liberér Sita, son épouse, enlevée par rahwana. 




Barong dance




Pura / Temples



 
Le gastronome Balinais










café et variété


 plantations de café

Dans le Nord, le pays de Kintamani et la région de Munduk et l’arrière-pays de Lovina sont riches en découvertes : café, cacao et odorantes plantations de girofliers alternent avec les rizières. À explorer à pieds ou en scooter, le nez au vent ! Dans cette région, c’est à Banyatis que vous trouverez le meilleur arabica, tandis qu’à Ngiring Ngewedang, des dégustations au musée du café vous permettront de distinguer le goût puissant du robusta et celui plus parfumé de l’arabica.



Et j'ai toujours aimé cette belle île, mmmm.... Bali Je t'aime.