Thursday, 25 December 2025

 Tenerife: Pulau Gunung Berapi yang Membuat Saya Lupa Pulang!


 




 

Bayangkan bangun pagi dengan matahari hangat di kulit, angin laut Atlantik yang segar, dan pemandangan gunung berapi megah yang berdiri anggun di kejauhan. Inilah Tenerife, pulau terbesar di Kepulauan Canary, Spanyol—destinasi yang menawarkan pantai eksotis, alam dramatis, kaya budaya, dan cuaca sempurna sepanjang tahun.

Jika Anda mencari tujuan liburan yang lengkap dan berkelas dunia, Tenerife adalah jawabannya. (Pariwisata Tenerife)

Saya berangkat ke Pulau Tenerife, Spanyol dari Bordeaux , Prancis, dengan teman saya Su, Kami berangkat dengan satu pikiran polos: “Ini kan pulau liburan, paling cuma pantai dan cocktail.”

Salah. Besar. Sekali.

Tenerife itu bukan sekadar pulau. Ini pulau gunung berapi aktif, pantai pasir hitam, tebing raksasa, angin kencang yang bisa bikin topi terbang, dan jalan berkelok yang membuat saya bertanya-tanya: “Kenapa Google Maps jadi ribet?”

Tapi justru di situlah serunya. Ini adalah cerita perjalanan kami ke Tenerife—sedikit bahaya, banyak ketawa, dan penuh pelajaran hidup (termasuk: jangan sok jago hiking).


Hari Pertama di Tenerife: “Oh, Ini Eropa… Tapi Kok Kayak Planet Lain?”

Begitu mendarat, saya langsung sadar satu hal: Tenerife bukan Spanyol yang saya kenal. Tidak ada nuansa Madrid atau Barcelona. Yang ada:

  • Batu vulkanik hitam

  • Gunung raksasa di tengah pulau

  • Laut biru gelap

  • Angin… banyak angin

Gunung Teide berdiri gagah seperti bos terakhir di video game. Dari jauh terlihat tenang. Dari dekat? Mengintimidasi coy...

Kami menginap di rumah seorang teman, yang berbaik hati menampung kami,. Di hari pertama Kami naik bus, hari kedua dan ketiga naik mobil, dan untung teman saya yang menyetir, karena saya Pikir, “Ah, hanya pulau, pasti  jalannya santai.” Nyatanya, jalan di Tenerife itu: Menanjak, berkelok, kadang tanpa pembatas. Dan temanku menyetir bak pembalap F1 hahaha… (ups maaf ya Dee, engkau pengemudi termanis loh?)  
 
 
 
 


 Gunung Teide: Tempat Saya Merasa Kecil 
  
Mengunjungi Taman Nasional Teide (3.715 mdpl) adalah highlight perjalanan ini. Lanskapnya dramatis dan memukau, seperti: Mars, bulan, atau film sci-fi  yang digabung jadi satu. (info Gunung Teide)
Saya naik kereta gantung (telefΓ©rico) hingga hampir ke puncak dan menikmati panorama yang luar biasa. Di atas, angin kencang, udara tipis, bila turis lain yang terlihat santai sambil berselfie ria.  Sedangkan Saya? Pegangan pagar sambil mikir, “Kalau jatuh, viral nggak ya?” 


Tapi pemandangannya…Gila. Pulau-pulau Canary lain terlihat dari kejauhan. Laut terlihat kecil. Ego saya? Lebih kecil lagi. Betapa gagahnya sang Teide ini.  

 

  

 


Pantai Pasir Hitam: Cantik, Tapi Jangan Kaget 

Kita lalu ke pantai. Tapi ini bukan pantai Instagram warna putih. Melainkan pantai pasir hitam vulkanik. Saat saya mendarat kaki telanjang saya di pasir hitam yang cantik ini, sambil berdengung, “Wah cantik.” Tapi 5 detik kemudian: “PANAS, PANAS…!, langsung loncat kembali ke trotoar dan pakai sepatu. 

Catatan penting:

  • Pasir hitam menyerap panas lebih cepat

  • Jangan sok-sokan jalan tanpa alas kaki

  • Saya belajar dengan cara yang menyakitkan hiks…

Saya sempat berpikir untuk berenang. Tapi ketika melihat ombaknya datang, ciut deh nyali premanku ini. Lalu sayapun duduk manis sambil sruput es krim vanila. Hidup masih panjang cyn, pikirku.

 

  

 

 

 Kota Tua La Laguna 

San CristΓ³bal de La Laguna adalah jantung budaya Tenerife. Kota ini penuh bangunan kolonial, gereja bersejarah, dan kafe artistik, yang berasal dari abad ke-17 dan ke-18. Kota ini merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO karena sejarahnya selama 500 tahun dan perawatan monumen-monumennya yang patut dicontoh, sayapun teringan dengan Bordeaux, kota dengan banyak bangunan tua yang indah di Prancis.

Lokasi kota yang berada di antara perkebunan pisang di lembah Aguere ini menjadi tempat yang sempurna untuk pencinta sejarah dan fotografi. Dan menjadi tempat saya berburu suvenir dan berfoto ria deh. Dan saat masuk ke Starbucks kutemukan kopi Priangan!

 


   

 

 

Los Gigantes: Tebing Raksasa & Pikiran Gelap 

Di Los Gigantes, kami naik kapal kecil untuk melihat tebing setinggi ratusan meter. Indah? Ya. Tenang? Tidak.

Tebingnya menjulang seperti tembok akhir dunia. Lautnya dalam. Sangat dalam. Pemandu bilang, “Di sini kadang ada paus.”Otak saya menjawab, “Bagus, jadi kalau jatuh tidak sendirianlah.”

Untungnya, kami melihat lumba-lumba. Mereka muncul santai, seperti berkata, “Tenang sista, kamu aman.” Itulah salah satu momen paling magis di Tenerife.

 

 

 

Makanan Tenerife: Enak, Tapi Hati-hati Sausnya

Saat siang kami mencoba kuliner lokal:

  • Papas arrugadas

  • Saus mojo rojo dan mojo verde

Kelihatannya tidak berbahaya. Kentang kecil, saus lucu. Sampai saya makan terlalu banyak mojo rojo. Pedasnya pelan, lalu… BOOM. Saya minta Su panggilkan Pemadam kebakaran, dan dia berikan saya sebotol air, saya minum air seperti baru selamat dari kebakaran hutan ha ha ga… Gile pedasnya cyn….

Tapi serius: makanan Tenerife itu sederhana, segar, dan bikin nagih.

 

 
 
 
 
 Cuaca Tenerife: Jangan Percaya Pagi Hari

Satu hal penting tentang perjalanan ke Tenerife:

Cuaca bisa berubah cepat.

Pagi:

☀️ “Liburan!”

Siang:

🌬️ “Angin badai kecil.”

Sore:

☁️ “Dingin tipis, tapi masih bisa hidup.”

 

Tips dari saya:

  • Selalu bawa jaket

  • Jangan menilai cuaca dari foto Instagram

     

Kenapa Tenerife Itu Spesial 

Tenerife dikenal sebagai “Island of Eternal Spring” karena suhunya stabil sepanjang tahun, berkisar antara 18–28°C. Namun daya tarik pulau ini jauh lebih dari sekadar cuaca.

Setelah beberapa hari, saya sadar: Tenerife itu liar tapi ramah.

Pulau ini:

  • Tidak berusaha menyenangkan semua orang

  • Tidak selalu nyaman

  • Tapi jujur, kuat, dan indah dan bikin nagih

Anda bisa:

  • Hiking di gunung berapi pagi hari

  • Minum kopi santai sore hari

  • Makan malam sambil lihat laut

Dan semua terasa nyata.

 
Tips Pribadi Saya untuk Liburan ke Tenerife

Dari pengalaman :

  • πŸš— Sewa mobil, tapi siap mental

  • πŸ‘Ÿ Pakai sepatu nyaman

  • πŸŒ‹ Jangan meremehkan alam

  • 🧴 Sunscreen WAJIB

  • πŸ“Έ Tapi jangan cuma foto—nikmati keindahan pulau ini

 

Perjalanan saya ke Pulau Tenerife, Spanyol, bukan liburan biasa.

Ini campuran:

  • Kagum

  • Takut

  • Ketawa

  • Dan rasa hidup yang utuh

Tenerife mengingatkan saya bahwa perjalanan terbaik bukan yang paling mewah, tapi yang paling berkesan. Saya datang untuk Liburan, dan Pulang dengan Cerita serta memori indah, seindah pulau Eternal Spring.

 

Giliran Anda Sekarang

πŸ”₯ Berani ke Tenerife?

Jika Anda suka perjalanan yang:

  • Sedikit liar

  • Sangat indah

  • Penuh cerita untuk diceritakan ulang

Maka Tenerife menunggu Anda.




Yukkkk Traveling lagi….  

 

 

 

 

Wednesday, 29 December 2021

Mengagumi Keindahan Gereja Bawah Tanah Saint-Jean, Prancis

 


Saya selalu bermimpi suatu hari nanti bisa mengunjungi Cappadocia dengan pemandangannya yang spektakuler. Tetapi dengan adanya pandemi Covid-19 ini membuat semua rencana berubah. Dan sayapun memutuskan mengelilingi sekitar tempat tinggal saya di Prancis yang juga tidak kalah indahnya.

Salah satu tempat yang menjadi incaran saya adalah Gereja Saint Jean di desa Aubeterre-sur-Dronne, wilayah Nouvelle Aquitaine, barat daya Prancis. Sekitar satu jam setengah perjalanan dengan mobil dari tempat tinggal saya di Cognac. 

Aubeterre-sur-Dronne merupakan salah satu desa terindah di Prancis sejak 1993. Sebagian keindahan desa ini terletak pada harta arsitekturnya, termasuk Chateau d'Aubeterre abad ke-11, dan Gereja Saint Jean yang spektakuler, merupakan salah satu gereja bawah tanah tertinggi di Eropa, juga dikenal sebagai gereja Monolitik, atau Eglise Monolithique, atau Gereja Troglodyte. 

 

Gereja Monolitik Bawah Tanah Saint-Jean diukir di tebing batu kapur pada abad ke-7 dan kemudian diperluas oleh para biarawan Benediktin pada abad ke-12.

Pekerjaan pada abad ke-12 dilakukan atas perintah Viscount Aubeterre, Pierre de Castillon, yang juga melakukan pekerjaan di gereja monolitik Saint Emilion. Dia melakukan pekerjaan itu setelah kembali dari perang salib dan menginginkan tempat yang cocok untuk menyimpan relik keagamaannya.

Kedua gereja tersebut terinspirasi oleh bangunan di Cappadocia di Turki di mana teknik menggali bangunan tersebut dari atas ke bawah.

Gereja ini memiliki panjang sekitar dua puluh tujuh meter dan lebar enam belas meter dan tingginya dua puluh meter pada titik tertingginya. Karena itu, ini adalah salah satu gereja bawah tanah tertinggi di Eropa. Gereja monolitik di Saint-Emilion di Gironde adalah yang terbesar di eropa tetapi gereja di Aubeterre-sur-Dronne lebih tinggi dari itu. 

Salah satu bagian tertua dari gereja adalah kolam pembaptisan di lantai gereja yang memiliki ukiran salib Yunani di bagian bawah.

 

 

Mendominasi apse adalah relikui batu besar yang meniru Makam Suci Yerusalem. Tingginya enam meter dan diukir dari satu balok batu. 

Peziarah akan datang ke gereja sebagai bagian dari 'Jalan Saint James' rute peziarah ke Katedral Santiago-de-Compostela di Spanyol. Mereka akan berdoa di depan relik keagamaan di relikui. 

Fitur lain yang mencolok dari gereja adalah nekropolis yang berisi sekitar 170 makam yang diukir di lantai batu dan masing-masing dengan kepala menunjuk ke Yerusalem. Ini adalah bagian awal dari gereja yang diukir pada abad ketujuh.

 



 

Di sisi gereja adalah tangga batu yang mengarah ke galeri berbentuk melengkung yang memungkinkan melihat pemandangan menakjubkan ke gereja.

Dulu Pernah ada pintu masuk dari atas ke galeri ini ,dan juga lorong menuju ke kastil, tetapi akhirnya ditutup karena bahaya longsor. Sebagian dinding yang bersebrangan dengan galeri memiliki tiga 'jendela' ke luar yang membiarkan cahaya alami masuk ke gereja. 

Gereja Saint-Jean adalah gereja paroki sampai 1794 ketika menjadi pabrik sendawa untuk memasok mesiu untuk revolusi. Kemudian menjadi kuburan yang akhirnya dihentikan karena alasan kesehatan masyarakat. Kemudian gereja ini tersembunyi selama bertahun-tahun oleh batu yang jatuh dan ditemukan kembali pada 1950-an.

 



Ketika saya masuk ke dalam ruangan besar dengan sebuah bangunan makam dan dua buah tiang besar yang langsung dipahat dari batu, serta tangga menuju ke setiap tingkat bangunan, sayapun sangat takjub akan kehebatan orang-orang pada masa itu yang menggalinya. Dan saya lebih mengagumi keindahannya ketika pemandangan dari atas ke galeri seluruh ruangan. Tetapi saat melihat satu ruangan yang penuh lubang-lubang bekas kuburan, sayapun tergidik… Untung saya tidak sendirian, ada beberapa turis lain yang juga mengagumi keindahan gereja bawah tanah ini. 

Gereja monolitik bawah tanah Saint-Jean buka sepanjang tahun kecuali untuk Hari Natal dan Hari Tahun Baru. Biayanya 5 euro untuk orang dewasa dan 2 euro untuk anak usia 2-12 tahun.

 

 

 HAPPY TRAVELING......