Friday, 19 June 2015

Menjejakkan Kaki di Bukit Pasir Terbesar di Eropa







Selama ini saya selalu berpikir bahwa bukit pasir selalu terletak di Timur Tengah atau Sahara di Afrika, tetapi siapa sangka di daratan Eropa ada padang pasir yang menakjubkan. La Dune du Pyla/ Pilat atau the great dune of Pyla adalah sebuah bukit pasir di Eropa yang terletak di Perancis, tepatnya di kawasan Teluk Arcachon, 60 km dari kota Bordeaux. Bukit pasir ini memiliki lebar 500 meter, panjang 3 km dan tinggi 107 meter diatas permukaan laut, menjadikan bukit pasir ini yang tertinggi di Eropa.

Menariknya, bukit pasir raksasa itu tidak pernah berhenti bergerak, Selama 57 tahun terakhir, bukit pasir itu telah bergerak sejauh 280 meter, yang berarti mengalami perpindahan tahunan sebesar 4,9 meter per tahun. Perluasan bukit pasir ini dikarenakan tiupan angin dari Samudera Atlantik yang menyebabkan bukit pasir ini bergerak kearah daratan dan perlahan semakin meluas, bahkan menutupi rumah dan jalanan disekitarnya.

Untuk mencapai bukit pasir Pyla bisa dengan kendaraan pribadi atau kereta api dari Bordeaux ke Arcachon lalu dilanjutkan dengan bus menuju ke Dune du Pilat, atau dari Arcachon bisa menyewa sepeda.



Ketika kaki menginjak di kawasan ini, rasa kagum dan tantangan untuk mencapai puncaknya membuat saya dan suami tidak menunggu lama, dan kamipun mulai mendaki, terdapat tangga untuk mencapai ke puncak bukit pasir ini, tetapi kami lebih menyukai tantangan mendaki hingga ke puncaknya. Perjalanan mendaki bukit pasir yang cukup curam ini cukup menguras tenaga dan kehati-hatian, kalau tidak waspada maka akan terguling ke bawah yang cukup menakutkan.



 Sisi dgn hutan pinus yg hijau


Pendakian yang cukup melelahkan terbayar dengan pemandangan yang menkjubkan dari atas puncak bukit. Di satu sisi pemandangan teluk Arcachon dengan pesisir pantai yang indah dan laut yang biru dan di sisi lain pemandangan hutan pinus yang hijau, sungguh suatu pemandangan yang tidak biasa dan membuat decak kagum. Kamipun berjalan sepanjang bukit pasir ini dan mata yang tidak lelah menikmati pemandangan di kedua sisi dari bukit pasir yang spektakuler ini. Karena keindahan bukit pasir Pyla ini, sehingga banyak wisatawan yang berkunjung ke sini. Selain menikmati keindahan dari puncak bukit, juga terdapat olahraga paralayang dan berenang di pantai Arcachon yang indah, selain itu terdapat kota-kota di tepi pantai yang indah.


 Satu sisi dgn pemandangan pantai dan laut yg biru



 Wisatawanpun berselfie ria


 
Setelah menikmati pemandangan di puncak bukit pasir, kamipun turun, dan menuruni bukit pasir ini cukup menantang juga, tetapi tidak seberat mendaki tentunya. Sebelum kembali ke Bordeaux, kami mampir ke sebuah kota yang terletak di tepi pantai,tidak jauh dari bukit pasir Pyla. Kota kecil tetapi asri dengan dermaga yang penuh dengan perahu nelayan maupun pribadi. Dan kamipun berjalan di pantai yang bersih dengan ombak yang tenang, pemandangan pantai yang indah, dan disisi seberang jalan berderet rumah dengan gaya yang unik, sungguh pemandangan yang sejuk di mata.



 Dermaga yg penuh dgn perahu


 Pantai yg bersih dan tenang





 Salah satu rumah dgn gaya yg unik dibanding dgn gaya rumah Perancis pd umumnya







HAPPY TRAVELING....



Wednesday, 17 June 2015

Menikmati Keindahan Rocamadour, Kota di Tepi Tebing, Perancis










Perancis selain terkenal akan fashion serta kuliner, juga terkenal akan kota-kota abad pertengahan yang unik dan indah. Salah satunya adalah Rocamadour, yang terletak di region Midi Pyrénées, barat daya Perancis. Rocamadour adalah sebuah kota abad pertengahan yang dibangun diatas ngarai sungai Alzou, dengan bangunan-bangunan yang berdiri di tepian tebing yang curam.


Untuk sampai di sini, kami berkendara di jalan yang berliku-liku mengelilingi bukit, dan dari jauh desa ini terlihat begitu cantik dan menakjubkan, seakan-akan sebuah desa yang mencuat dari tebing bukit. Pemandangan ini mengingatkan saya akan film 'Lord of the Ring' dengan desa di tebing bukitnya.


Sesampai di kaki bukit, kamipun berjalan naik tangga yang cukup curam, pada saat itu saya sedang hamil 8 bulan. Walaupun terdapat kereta kecil atau lift untuk naik ke atas dengan harga 3,5 euro, tetapi kami memutuskan berjalan kaki saja, sambil menikmati pemandangan perbukitan yang indah dan tentu saja dengan sedikit olah raga. Rasa cape karena tangga yang cukup curam dan dengan beban hamil, semua itu terbayarkan dengan pemandangan yang menakjubkan disekeliling kami.


 Jalanan berkelok2 mengelilingi bukit


Setelah sampai di jalan utama kota ini, kamipun melanjutkan perjalanan dengan jalan yang menanjak, disepanjang kiri kanan jalan berderet cafe, hotel serta toko-toko suvenir dengan berbagai pernak pernik khas Rocamadour, tetapi terdapat sebuah toko yang menarik mata saya, dikarenakan cinderamata yang dijual seperti cinderamata yang sering saya temukan di Bali, dan ternyata pemiliknya adalah orang Indonesia. Wah saya jadi bangga bisa menemukan pernak pernik khas Indonesia ada disini.

Rocamadour selain terkenal sebagai tujuan wisata bagi turis, juga merupakan tempat ziarah atau tempat suci bagi umat katolik, sejak ditemukannya makam kuno pada tahun 1166, yang diyakini sebagai makam Saint Amadour, atau yang dikenal 'Zhakeus'.



 Jalan utama dgn deretan toko, cafe dan hotel


Setelah perjalanan menanjak, dan dilanjutkan dengan menaikki 216 tangga, akhirnya kami sampai di kompleks kapel dan gereja, atau dikenal dengan 'Cité Religieuse'/ tempat suci. Pertama yang kami kunjungi adalah Basilique St-Sauveur, bangunan romanesque-gothic ini dibangun pada abad ke-11 hingga 13. Bangunan sederhana ini cukup menarik, karena dinding belakang adalah batu bukit itu sendiri. 

Setelah itu kami lanjut ke Chapelle de Notre-Dame/ kapel Notre Dame yang masih sederet dengan Basilique St-Saiveur. Di atas pintu masuk ke kapel, terdapat sebuah pedang Durandal, yang menurut legenda pedang suci tersebut milik Paladin Roland, yang ia lempar ke tebing di Rocamadour agar tidak ditangkap oleh musuhnya. 

Paladin adalah sebutan untuk 12 pasukan Charlemagne yang disebut juga Twelve Peers. Charlemagne sendiri adalah raja dari suku Frank yang dianggap sebagai Bapak pendiri Eropa. Sosok Paladin pertama kali muncul pada karya sastra berjudul "The Song of Roland", yang ditulis sekitar tahun 1140 hingga 1170. 
Para Paladin melambangkan keberanian para pasukan Kristen melawan para pasukan musuh. Asal kata paladin berasal dari bahasa Latin "palatinus" yang mengacu kepada para prajurit kelas atas Kekaisaran Romawi yang berada di Palatine Hill.



 Cité Religieuse



  Basilique St-Sauveur



 Chapelle de Notre-Dame


 
Kembali ke Chapelle de Notre-Dame, adapun primadona di kapel ini adalah patung 'Black Madonna', yang di Perancis dikenal 'Vierge Noires', dimana patung kayu tersebut dipahat oleh Saint Amadour sendiri.
 
Setelah dari kapel, kamipun mampir ke makam St. Amadour atau Zhakeus, yang masih dalam satu kompleks. Makam ini terdapat dalam dinding bukit yang dipagari dengan pagar besi sebagi pelindungnya.



 Black Madonna



  makam St. Amadour



Setelah itu, kamipun lanjut ke kastil yang terletak diatas bukit, kami melewati jalan kecil yang berliku-liku, yang dikenal dengan jalan salib. Untuk masuk ke dalam kastil dikenakan biaya 1 euro, dan dari atas kastil ini, para turis dapat menikmati pemandangan lembah yang indah dan desa sekitar yang terletak di bawah bukit.


Setelah puas menikmati pemandangan dari kastil, kamipun turun dan mengagumi keunikkan tiap bangunan yang terdapat di Rocamadour ini. Hampir semua bangunan menyatu dengan dinding tebing dan menghadap ke lembah, sungguh menakjubkan. Kekaguman saya tidak pernah hilang akan keunikkan dan keindahan Rocamadour, sebuah desa di tebing bukit nan indah. 
Bagi anda yang mengunjungi Perancis, mungkin Rocamadour bisa menjadi salah satu destinasi anda selain Paris tentunya.



 Bangunan yg menyatu dgn dinding batu



 Bangunan yg menyatu dgn dinding batu


Tidak jauh dari desa Rocamadour, terdapat sebuah gua prasejarah, dimana terdapat banyak lukisan dinding yang telah berumur Lebih dari 20.000 tahun sebelum masehi, serta keindahan stalagmit dan stalagtit yang mengagumkan. 
Bagi para pengunjung yang masuk ke dalam gua ini, dilarang mengambil foto, baik dengan kamera biasa ataupun kamera phone. Karena untuk menjaga situs ini dari kerusakan.






 Pintu masuk ke Goa

Tips berpetualang ke Rocamadour:

Untuk menuju ke Rocamadour dari Paris dapat naik kereta menuju ke Brive la Gaillard, lalu lanjut dengan kereta lokal dengan tujuan Rocamadour PadiRac, dari stasiun kereta ini lanjut dengan sewa sepeda atau jalan kaki sekitar 2 mil jaraknya ke kota Rocamadour. Tidak ada bus atau transportasi ke kota ini. Jadi cara paling praktis adalah dengan membawa mobil sendiri. 
Dan tidak bisa one day trip, paling tidak harus nginap, karena susahnya transportasi ke sini. Banyak penginapan di kota ini dan juga banyak tempat-tempat menarik di sekitar sini, jadi ditanggung tidak akan bosan berpetualang di sini.


Happy Traveling.... 
 

Saturday, 30 May 2015

Merasakan Dunia Mediaval di Carcassonne - Perancis






Suatu kali dalam perjalanan kami di kota Toulouse, kami menyempatkan diri mengunjungi kota Carcassonne, yang terletak di sebelah barat daya Toulouse, Perancis selatan, kira-kira 85 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 20 menit dari Toulouse, tepatnya di region Languedoc-Roussillon.



Dari jauh pemandangan kota benteng ini sudah menampakkan keindahannya, bagaikan istana dalam cerita Walt Disney. Benteng dan kastil Carcassonne (Château et remparts de Carcassonne ) adalah bangunan di abad XI – XIII yang masuk dalam situs warisan dunia UNESCO dan merupakan benteng terbesar di Eropa.. Semakin dekat, kota benteng tua ini semakin menampakkan kekokohan dan kemegahannya, dengan panjang tembok 525 meter, dan 250 meter lebarnya. Ketika kami masuk kedalam, kota ini terdapat 2 lapis tembok, tembok terluar dengan 14 menara pengawas dan tembok bagian dalam terdapat 24 menara. Dan antara tembok pertama dan kedua terdapat jalan yang lebar dengan panjang 1500 meter, dan kalau tidak mau cape mengelilingi benteng ini, terdapat kereta kuda yang akan membawa para penumpang berkeliling. Selain itu terdapat juga tangga-tangga batu yang menuju ke atas benteng. Sebelum masuk ke benteng pertama, terdapat parit yang mengelilingi benteng yang telah kering, dan kita melewati jembatan kayu yang dapat diangkat sebagai pintu utama masuk ke dalam benteng..

Di dalam benteng kedua terdapat château Comtal, museum, Basilika Saint-Nazaire, rumah-rumah abad pertengahan, hotel, restoran dan cafe-cafe serta toko-toko suvenir yang menjual suvenir khas Carcassonne dan juga peralatan perang ataupun baju khas abad pertengahan. 



 Tembok terluar yg dipisahkan oleh parit yg sudah kering


                    jalan antara tembok terluar dan tembok kedua



                      Naik kereta kuda sambil menikmati pemandangan


 
Pertama yang kami kunjungi adalah château Comtal, sebuah kastil yang dipisahkan dengan sebuah parit yang mengelilingi kastil ini, dengan sebuah jembatan batu sebagai jalan masuk dan pintu gerbang diapit oleh dua buah menara, dan ini mengingatkan saya para satria berkuda atau pangeran berkuda masuk ke istana melalui jembatan batu di buku cerita. Kastil ini dibangun pada abad ke-12 oleh Bernard Aton Trencaval, yang awalnya adalah sebuah istana dan kemudian dikonversi ke benteng setelah Carcassonne menjadi bagian dari warisan kerajaan pada tahun 1226. Harga tiket masuk ke kastil adalah 8,50 euro/ orang dan 3.00 euro untuk anak-anak.



château Comtal


Setelah itu kamipun berjalan menyusuri tiap lorong dan jalanan batu yang sempit dengan rumah-rumah khas abad pertengahan yang indah, serta tidak lupa naik keatas benteng dan menikmati pemandangan kota diluar benteng yang hijau dan asri. 
Tidak berapa lama kamipun sampai di Basilika Saint-Nazaire, dan mengagumi keindahan interior serta jendela kaca yang berwarna warni, tetapi sayang kami tidak sempat ke museum, karena keterbatasan waktu. 



  Basilika Saint-Nazaire



 Interior Basilika Saint-Nazaire



 Lorong-lorong sempit



 
 jalanan batu khas abad pertengahan



Dan kamipun beristirahat di sebuah cafe (terdapat sekitar 50 resto dan cafe di dalam benteng Carcassonne), sebelum kami kembali ke Toulouse





Untuk menuju ke Carcassonne dari Paris

Dengan kereta TGV (kereta cepat, waktu tempuh sekitar 5 jam), atau kereta normal (sekitar 7-8 jam) dari stasiun kereta Gare de Lyon. Dan hanya kereta normal yang direct ke Carcassonne, cek jadwal dan harga kereta api di sini

Dengan pesawat dari Paris (kadang lebih murah daripada naik kereta) - Toulouse (Blagnac airport), lalu lanjut naik bus service ke gare matabiau SNCF, dan dari sana terdapat 15 kereta api menuju ke Carcassonne dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.


Happy Traveling Guys...!



 

Tuesday, 19 May 2015

Munich – Si Klasik yang Menawan



Munich atau Munchen adalah ibukota wilayah Bavaria/ Bayern yang terletak di selatan Jerman, dan merupakan kota terbesar ketiga setelah Berlin dan Hamburg.

Kami berkunjung ke Jerman selama 3 hari dan tinggal di kora Anzing, 1 jam dari Munich. kami hanya mempunyai waktu sehari untuk mengunjungi kota munich, sehingga tidak banyak waktu untuk menjelajahi kota dengan begitu banyak hal yang ditawarkannya. Jadi kami lebih banyak mengelilingi kota tua dan sekitarnya, dan tentu saja kami tidak lupa mengunjungi kamp konsentrasi Daghau serta kastil Neuschwanstein.



Kota Munich pada tahun 2006 pernah menjadi tempat ajang piala dunia , dan Allianz Area/ stadion Munchen yang megah menjadi salah satu daya tarik turis di kota ini. Selain dikenal dengan klub sepak bolanya Bayern Munchen, kota ini juga terkenal karena festival Oktoberfest yang diadakan setiap tahun sejak 1810.

Oktoberfest adalah festival kuliner seperti minum bir dan makan berbagai suguhan khas Jerman. Pada saat festival ini, akan begitu banyak turis dan penduduk lokal di jalanan dan tenda-tenda, semakin malam semakin ramai suasananya, dan esok harinya akan terlihat begitu banyak orang tidur di mana-mana karena mabuk bir malamnya.

Ketika kami sampai di Munich dengan kereta api, kamipun memulai berjalan ke list pertama kami, Marienplatz. Dan cara terbaik mengelilingi kota ini adalah dengan berjalan kaki, karena jarak satu gedung dengan gedung lainnya saling berdekatan. 

Marienplatz atau lapangan St.Mary adalah alun-alun kota Munich yang pada abad pertengahan adalah sebuah pasar, dan juga sebagai tempat perayaan dan turnamen, dan dimasa kini tetap menjadi tempat perayaan berbagai festival penting, serta sebagai tempat meeting point untuk pertemuan penduduk lokal ataupun para turis. Pusat kota ini awalnya bernama Schrannen yang akhirnya berganti nama menjadi Marienplatz (lapangan St.Mary) sebagai bentuk untuk meminta Bunda Maria Melindungi kota dari penyakit epidemi kolera yang melanda kota pada masa itu.

Dan dari sini kitapun mulai menelusuri tiap sudut kota dengan berbagai bangunan yang indah. 

Bangunan pertama yang kami lihat ketika ada di Marienplatz adalah Neues Rathaus, sebuah bangunan yang mencolok dengan gaya gothic, dibangun pada tahun 1867 oleh Georg Joseph Hauberriser. Neues Rathaus dibanguna untuk menggantikan balai kota lama, Altes Rathaus yang sudah terlalu padat. Altes Rathaus pernah hangus terbakar pada tahun 1460. Kedua bangunan ini saling berdekatan, jadi tidak susah untuk menemukannya. Dan di tengah-tengah alun-alun terdapat sebuah tugu, Mariensaule, yang dipuncaknya terdapat patung Bunda Maria berlapis emas, yang dibangun pada tahun 1638 untuk merayakan akhir dari invasi Swedia selama perang 30 tahun.


 Neues Rathaus


 Altes Rathaus


Mariensaul

 
Setelah itu kamipun lanjut ke Frauenkirche atau Cathedral of Our Blessed Lady. Bangunan Katedral ini terdapat 2 menara dengan tinggi 99 m dengan atap berbentuk dome/ kubah, yang mencontoh model Kubah Batu di Jerusalem. Bukan karena arsitektur katedral yang dibangun pada tahun 1494 ini yang membuat bangunan ini istimewa, tetapi terdapat undang-undang tidak boleh ada bangunan yang lebih tinggil dari gedung simbolik Bavarian ini. Dan para turis dapat naik keatas menara serta menikmati pemandangan kota Munich serta pegunungan Bavaria yang luar biasa. 



  Frauenkirche



 Interior  Frauenkirche


Puas berkeliling di pusat kota atau alun-alun Munich, kamipun lanjut ke Viktualienmarkt, sebuah tempat dengan berbagai macam jualan, sayuran segar, daging-dagingan, buah-buahan segar, berbagai macam keju, tanaman hias dan tidak lupa bir khas Bavaria dan tentu saja makanan khas Jerman. Ditengah Viktualienmarkt terdapat taman bir yang dinaungi oleh pohon chesnut yang telah berusia ratusan tahun. Ini adalah tempat yang paling tepat untuk beristirahat sejenak dari keramaian sambil menikmati pemandangan kesibukan pasar. Jangan lupa mencoba sosis khas Jerman serta sauerkraut ataupun brotzeit, selain itu kitapun bisa makan makanan bawaan kita sendiri, dan jangan kuatir bila kehabisan air, kita bisa isi botol kosong di kran khusus untuk minum, yang tersebar di berbagai tempat.



 Viktualienmarkt

 
Setelah menikmati makan siang, kamipun lanjut ke Munich Residentz/ Residentz Munchen atau Istana Kerajaan Bavaria. Munich Residentz adalah istana terbesar di Jerman yang terletak di dalam kota, dan merupakan pusat pemerintahan dan tempat tinggal para bangsawan dan raja-raja dari tahun 1508 hingga 1918. Awalnya pada tahun 1385, Munich Residentz adalah sebuah kastil, lalu berabad-aband kemudian berubah menjadi sebuah istana yang megah dengan taman-taman dan gedung yang semakin banyak dibangun hingga mendekati pusat kota. Arsitektur, dekorasi interior, dan karya seni dalam Munich Residentz, yang dikumpulkan pada masa Renaisans menjadi saksi ambisi politik dari Dinasty Wilttelbasch yang diskriminasi.

Munich Residentz memiliki sejumlah museum, monumen, taman-taman dan danau, Cuvillies Theater, Schatzkammer (ruang harta benda), Alleheiligen-Hofkirche (gereja khusus keluarga kerajaan), veranstaltungsraume (ruangan besar untuk acara kerajaan), serta Hofgarden, sebuah kuil terdapat di pintu utama halaman yang memiliki kubah yang dimahkotai dengan patung perunggu melambangkan Bavaria. Keseluruhan kompleks ini merupakan salah satu museum terbesar di Bavaria. Harga Tiket terusan 13 euro, untuk mengunjungi semua ruang dan gedung, sedangkan taman dan Hofgarten gratis.



 Hofgarden


Setelah dari Munich Residentz, kami lanjut ke Feldherrnhalle (Field Marshal's Hall) yang terletak di Odeonsplatz. Odeonsplatz merupakan alun-alun yang indah dengan bangunan Felderrnhalle, Theatinerkirche, Hofgarten dan taman. Feldherrnhalle dibangun antara tahun 1841-1844 dan merupakan salah satu gapura yang besar dari tembok Schwabinger Tor yang mengelilingi kota, yang kemudian dihancurkan oleh Leon Von Klenze atas perintah Ludwig I untuk pembangunan sebuah alun-alun. Feldherrnhalle terdiri dari ruang tertutup dengan lima lengkungan yang mengelilinginya, tangga di lengkungan pusat pintu masuk diapit oleh dua singa Bavaria, dan terdapat dua buah patung perunggu di kiri dan kanan sebagai penghormatan jenderal Bavaria Von Tilly dan Marshall Wrede. 



Feldherrnhalle



Dan di sisi barat dari Odeonplatz adalah Theatinerkirche, tepat bersebrangan dengan Feldherrnhalle. Theatinerkirche atau St.Cajetan's Church dibangun oleh arsitek Italia, sehingga rasa Italia sangat kental di gereja ini. Gereja dengan warna kuning yang sangat menonjol ini dibangun pada abad ke-17 sebagai perayaan kelahiran pangeran baru, Max Emannuel, yang ditunggu begitu lama akan kelahirannya.
 


  Theatinerkirche


 
Setelah itu kamipun ke Bayerische Staatsoper/ Bavarian State Opera, adalah sebuah gedung opera yang indah, dan dengan interior yang cantik. 


  Bayerische Staatsoper


Tidak terasa hari sudah menjelang sore, dan kamipun harus kembali ke Anzing dengan kereta. Semoga kami dapat kembali ke kota ini dan menjelajahi lebih banyak tempat-tempat indah lainnya.




 

 

Wednesday, 6 May 2015

Ghent - Kota Abad Pertengahan Yang Indah di Belgia







Ketika dalam perjalanan pulang dari Belanda menuju ke Perancis, kami melewati negara Belgia, dan sayapun mengusulkan mengunjungi Antwerp, karena searah dengan jalur yang kami tempuh. Tetapi suami menganjurkan ke Gand. Sayapun mencari dimana itu kota Gand... Dan rupanya dalam bahasa Inggris adalah 'Ghent' dan dalam bahasa Belanda 'Gent', sedangkan bahasa Perancis adalah Gand. Ghent adalah sebuah kota yang terletak di wilayah Flemish dekat perbatasan Perancis dan 57 km dari Brussels. Mungkin kebanyakan turis lebih memilih kota Brussels, Brugges atau Antwerp bila mengunjungi Belgia, tetapi setelah kunjungan saya ke kota ini, tidak kalah cantiknya dengan ketiga kota di Belgia tersebut, bahkan lebih indah dengan berbagai gaya arsitektur bangunan yang menghiasi kota ini

Setelah memarkir mobil di dekat Sint-Baafskathedraa, atau Katedral Saint Bavo, kamipun menjelajahi kota tua di Ghent, selain jalan kaki, atau sewa sepeda, kitapun bisa naik perahu disepanjang sungai Leie untuk menyusuri kota ini. Dan untunglah selama kunjungan kami, cuaca sangat bersahabat, jadi kamipun berjalan kaki menyusuri tiap sudut kota tua ini. Pertama yang kami kunjungi adalah Katedral St. Bavo, karena yang paling dekat dengan parkiran kami. Katedral yang bergaya gothic dan baroque ini dibangun dalam beberapa abad (942-1569!), dan merupakan salah satu landmark kota Ghent. Dan jangan lewatkan untuk mengunjungi interior katedral, yang banyak terdapat karya seni dan salah satunya adalah 'The Adoration of the Mystic Lamb', karya Eyck bersaudara. 



Sint-Baafskathedraal



Interior Sint-Baafskathedraal



The Adoration of the Mystic Lamb



Setelah dari Katedral St. Bavo kami lanjut ke Sint-Niklaaskerk atau gereja Saint Nicholas. Gereja dengan gaya scheldt gothic ini pernah hancur karena kebakaran pada tahun 1120 dan 1176, lalu dibangun kembali oleh penduduk Ghent yang selesai pada tahun 1220 dan 1250. Pada masa revolusi Perancis, gereja ini pernah menjadi kandang kuda.
Tidak jauh dari gereja St. Nicholas terdapat sebuah menara Belfort Van gent. Menara ini adalah salah satu dari tiga menara yang menghiasi langit kota Ghent, selain menara Katedral St. Bavo dan menara gereja St. Nicholas. Menurut catatan daftar warisan dunia UNESCO, menara dengan tinggi 91 meter ini merupakan salah satu menara tertinggi di Belgia dan Perancis, yang awalnya dibangun sebagai menara pengawas, lalu pernah berubah fungsi menjadi menara lonceng dan menara jam. Pengunjungpun dapat naik ke atas menara dan menikmati pemandangan kota Ghent.


Sint-Niklaaskerk



Interior Sint-Niklaaskerk



Belfort Van gent


Tidak berapa lama berjalan kamipun bertemu Graslei dan Korenlei, sebuah tempat yang paling saya suka selama berjalan di sini. Graslei dan Korenlei adalah dua sisi dari sungai Leie yang melewati tengah kota. Ini adalah tempat yang paling indah dan romantis, karena dihiasi deretan bangunan dengan arsitektur yang unik dan menawan dari berbagai masa. Sedangkan disebelah jembatan St.Michael, terdapat gereja St.Michael yang bergaya gothic. Banyak turis dan penduduk setepat bercengkrama dan santai di sini, bahkan banyak juga yang melakukan olahraga air seperti canoe. Dan sayapun melihat anak-anak muda sedang syuting film, dan iseng-iseng saya bertanya tentang apa syutingnya. Rupanya  tentang seorang pria yang tertangkap basah oleh teman wanitanya ketika sedang selingkuh. Ahhhh... selingkuh ditempat yang romantis...





 Deretan bangunan dgn arsitektur yg indah


Jembatan St.Michael dan gereja St.Michael


Oh oh  tertangkap basah....


Tanpa lelah kami berjalan dan menikmati setiap bangunan di sini, dan kami melihat sebuah bangunan yang begitu unik, itulah Groot Vleeshuis atau tempat pemotongan hewan. Groot Vleeshuis dibanguan pada tahun 1407-1419 sebegai pasar daging. Interior bangunan ini tetap terpelihara indah dengan bahan bangunan dari kayu, dan masa kini telah berubah menjadi restaurant. 
 


Groot Vleeshuis


Tidak berapa lama kamipun bertemu Landmark kota ini, Gravensteen Castle, sebuah kastil yang terletak di tengah kota, yang dibangun pada abad ke-12 oleh count Philip dari Alsace. Dalam bahasa Belanda Gravensteen berarti 'castle of the counts', dan kastil ini pernah menjadi penjara dengan berbagai praktek penyiksaan diabad pertengahan, dan sekarang menjadi museum yang masih menampilkan berbagai alat penyiksaan. 
Setelah dari Gravensteen castle kamipun berjalan menyusuri jalan-jalan disekitar castle dan menemukan banyak kanal-kanal dengan deretan bangunan yang unik dan tertata indah. Dan terdapat sebuah meriam besar berwarna merah yang diletakkan di tepi kanal. Setelah saya melihat dengan dekat, masih kalah indah dibanding dengan meriam si Jagur di museum Jakarta.


 Gravensteen Castle







Si Meriam Merah Dulle Griet


Setelah itu kamipun berjalan ke pusat pertokoan untuk mencari suvenir khas kota Ghent, dan salah satu yang menarik hati adalah Cuberdon, permen berbentuk kerucut dengan berbagai rasa buah yang enak. Di Belanda dikenal dengan nama Neus (nose/hidung), Gentse Neus (Ghent nose), karena seperti hidung manusia, Sedangkan di Perancis dikenal dengan nama Chapeau-de-curé dan Chapeau-de-prêtre (topi pendeta). Lucu-lucu yah namanya.











Karena waktu tidak begitu banyak, kamipun harus mengakhiri perjalanan singkat nan padat ke kota mediaval yang indah ini. Au revoir... Tot ziens.... 


Transportasi menuju ke sini selain mobil pribadi adalah dengan kereta;

pada saat kedatangan di bandara Brussels Zaventem (layanan kereta api penumpang yang tersedia antara Ghent dan bandara); lama perjalanan sekitar 45 menit.

Atau naik kereta dari Brussels main Railways Station menuju ke Gent- Sint-Pieters Station, dan banyak kereta cepat seperti Eurostar dan Thalys dari berbagai kota di Eropa yang menuju ke brussels railways station.



Terdapat 2 station kereta api di Ghent yaitu :

  1. Gent-Sint-Pieters station yang dilanjutkan dengan tram no.1 menuju ke kota tua, berhenti di Korenmark.
  2. Dampoort Station yang dilanjutkan dengan bus no. 3, 17, 18, 38 dan 39 direct ke kota tua berhenti di Korenmark.



HAPPY TRAVELING.....