Monday, 31 October 2016

Mengagumi Keindahan Château Chantily, Perancis







Setelah saya pindah ke wilayah Picardie, yang terletak di utara Paris, maka sayapun dekat dengan sebuah kota yang dikenal sebagai tempat asal dari salah satu jenis krim yang melegenda: Chantilly cream, atau lebih dikenal dengan nama whipped cream. Tidak hanya itu, kota inipun terkenal karena keindahan château/ kastil nya, yaitu château de Chantily.


Château de Chantily yang terletak sekitar 40 km sebelah utara kota Paris, adalah sebuah kastil bergaya klasik yang kaya sejarah. Ornamen dan detail kastil inipun tak kalah indah dari Château de Versailles. Château de Chantilly didirikan di atas pondasi bebatuan yang kokoh, di sebuah muara tempat pertemuan sungai Oise dan Seine.  
Dan kastil inipun pernah menjadi setting-an film James Bond, "A View to a Kill" atau versi bahasa Perancisnya "Dangereusement Vôtre", diperankan Roger Moore. Film lain yang pernah setting di kastil ini juga, "Marie – Antoinette" yang dimainkan oleh Kirsten Dunst (2006). Bahkan Pink Floyd juga pernah menggelar konsernya dua malam berturut-turut di sini. Kastil ini juga menjadi tuan rumah dari kompetisi kembang api internasional (Nuits de Feu) yang diadakan setiap dua tahun.



 Penampakkan dari udara (image by tourisme Chantily)




Saat mobil kami memasuki tempat parkir, mata sayapun langsung menangkap keindahan kastil ini dari jauh. Walaupun bangunannya tidak sebesar chateau Versailles, tetapi keindahannya tak kalah memukau mata. Dari luar kastil ini dikelilingi sebuah kanal yang bersih, dan sayapun dapat melihat pantulan keelokkan kastil ini di kanal tersebut. Terdapat dua buah loket tiket di sisi kanan dan kiri, sebelah kanan loket elektronik tanpa petugas dan sebelah kiri loket dengan petugas. Untuk masuk ke kastil para pengunjung dapat memilih beberapa pilihan tiket. 
Chantilly Pass adalah yang terlengkap, dengan fasilitas akses untuk seluruh area Château plus museum Conde, kebun serta museum kuda. Pass ini dijual dengan harga €17 (€10 untuk anak 4-17 tahun). 
Jika hanya ingin menikmati taman saja, silakan beli saja tiket “The Park” seharga €8 (€5 untuk anak 4-17 tahun) yang akan memberikan Anda sekeluarga akses ke seluruh bagian taman dengan mock hamlet dan labirin yang akan menghibur anak-anak.

Karena kami berempat, 2 dewasa serta 2 anak, maka kami membeli harga keluarga yang lebih murah, yaitu €45. Selain harga-harga diatas, terdapat juga pilihan harga untuk menikmati pertunjukkan, dengan harga 21€ (17,50€ untuk anak 4-17 tahun).

Setelah tiket di tangan kamipun mulai eksplorasi, Sebelum sampai ke kastil, sebuah patung raja dengan kuda tungangannya menyambut kedatangan kami, lalu kami melewati patung anjing di sisi kiri dan kanan. Anjing adalah binatang paling disukai oleh pria bangsawan Perancis, karena merupakan teman terbaik saat berburu. Maka tidak heran banyak lukisan dengan tema anjing, bahkan terdapat banyak lukisan para bangsawan dan raja dengan anjing kesayangannya.

Setelah memasuki kastil, pertama kami melewati butik penjualan souvenir, lalu sebuah ruangan dan sebuah tangga dengan pegangan emas, yang dikenal sebagai tangga emas. Lalu sampailah saya disebuah koridor, dan museum Conde yang dikenal gallery de painting. Kastil Chantily adalah salah satu museum terlengkap yang mengkoleksi lukisan-lukisan asli Perancis dan Italia. Hal ini membuat posisi Chantilly berada satu tingkat di bawah museum Louvre. Tercatat sekitar 1000 lukisan, 2500 gambar, serta 2500 grafis/sketsa yang dipajang di hampir tiap ruangan dalam bangunan spektakuler ini. Tentu saja ini menjadi salah satu daya tarik bagi saya yang adalah pecinta lukisan. Tidak habis-habisnya rasa kagum terhadap lukisan yang terpasang di hampir semua tempat, dari dinding bawah hingga atas. Dan karya lukisan yang dikoleksipun dari para maestro yang melegenda, seperti Raphael, Botticelli hingga Delacroix dan Ingres. Beberapa koridor juga menampilkan koleksi perangkat perjamuan makan para bangsawan, koleksi keramik dari Jepang buatan jaman Edo (1600-1800). Saat menikmati setiap lukisan, sayapun tidak lupa bertanya pendapat anak saya yang sulung (6 tahun) terhadap setiap lukisan yang kami lihat. Dan diapun jadi asyik menilai tiap lukisan yang saya tanyakan, sungguh suatu pengalaman baru bagi anak saya dalam menilai lukisan.


Koleksi-koleksi ini sebagian besar dikumpulkan oleh Duc d’Aumale dari perjalanannya keliling Eropa.

 


















Dan terdapat sebuah surga bagi pecinta buku, yaitu sebuah perpustakaan yang sungguh mengagumkan. Terdapat koleksi kira-kira 30.000 buku dan 1500 manuskrip yang ada di sana. Buku dan manuskrip yang terdapat di sini dari abad ke-18, seperti buku ‘Histoire de la conquéte de l’Angleterre’, dari tahun 1856. Walaupun buku dan manuskrip koleksi dari abad 18, perpusatakan ini jauh dari kesan kuno dan kotor, melainkan ditata begitu apik dan sedap dipandang mata.






Kastil Chantilly juga terdapat sebuah kapela (gereja kecil) yang berhiaskan patung-patung malaikat dari granit hitam. Sedangkan dekorasi langit-langit serta kaca jendelanyapun tak kalah indahnya. Pada bagian lantai dasar terdapat beberapa ruang tidur para bangsawan yang pernah menghuni kastil ini.








Sejarah keberadaan kastil ini berawal dari abad pertengahan, dan terjadi beberapa kali perpindahan tangan dan restorasi, mulai dari keluarga Montmorency, Orgemont, Bourbon-Conde dan Orleans pada kitaran abad ke-14. Kini Chateau de Chantilly berada dalam wewenang Institut de France, dijadikan museum, setelah diserahkan oleh pemilik terakhir, Duc d’ Aumale. Bahkan pada masa revolusi, kastil ini disita dan dijadikan penjara. Barang-barangnya pun dirampas dan entah dibawa kemana, bangunan kastilpun dihancurkan. Lalu pada tahun 1882, kastil Chantilypun dibangun kembali seperti bentuk aslinya oleh arsitek Honore Daumet, dibawah kuasa ahli waris terakhir dari keluarga Montmorency, Henri-Eugene-Philippe-Louis, Duc d’Aumale.  Duc d’Aumale meninggal pada tahun 1897, mewariskan kastil mewahnya kepada Institute de France dengan syarat rumah ini akan dibuka untuk umum dan barang apapun yang ada di dalamnya tidak boleh dipindahkan sama sekali.


Henri-Eugene-Philippe-Louis, Duc d’Aumale (net)



Setelah puas menikmati kastil, kamipun keluar menuju ke taman. Luas dari taman Chantily adalah 115 hektar, termasuk sungai, kanal, hutan dan taman. Terdapat beberapa tema taman yang dapat kita jumpai: English Garden, French Garden, Anglo-Chinese Garden, Garden of Voliere, Temple of Venus, Petit Parc dan lainnya. Yang paling ujung dari taman ini yakni Kangaroo Park, taman berisi kangguru yang didatangkan dari Australia. Karena begitu luasnya taman ini, maka suami dan si bungsu (3 tahun) memutuskan kembali ke mobil, karena si bungsu sudah mulai terlelap saking capenya jalan. Bagi yang tidak ingin jalan kaki terdapat mini bus yang dapat mengantar turis ke semua pelosok taman dengan harga 5,5 (3,5 euro untuk anak 3-17 tahun).






Temple of Venus




Di taman Anglo-Chinese, terdapat mock hamlet yang terinspirasi dari Marie-Antoinette. Digambar pada tahun 1773 oleh arsitek Jean François-Leroy untuk pangeran Louis-Joseph de Bourbon-Condé. Taman Anglo-Chinese mock hamlet ini terdiri dari lima rumah kecil dari kayu yang mirip dengan hamlet Marie Antoikette di Versailles. Salah satu rumah hamlet ini menjadi sebuah restoran yang menyajikan makanan dengan crem khas Chantily yang delisious. Dan tidak jauh dari restoran terdapat sebuah taman bermain anak-anak.




 Rumah hamlet yg menjadi restoran



Sayangnya hari sudah mulai senja, dan kaki si emakpun sudah mulai cenat-cenut, walaupun si sulung masih terlihat semangat eksplorasi, apa daya emakmun memutuskan kembali ke mobil dan mencari makan di sekitar kota Chantily.


 
 
Oh iya untuk menuju ke sana :

Naik kereta ter (TER train) dari gare du Nord (stasiun Nord), Paris yang menuju ke stasiun Chantilly-Gouvieu (hanya 20-25 menit), lalu dari sana jalan kaki ke kastil sekitar 25-30 menit, atau naik bus yg menuju ke kota Senlis, dan stop di château.

Terdapat juga RER D dari gare du Nord ke Chantily, tetapi ini agak berbelit dan lama, sekitar 45 menit-an dan berhenti di banyak stasiun.




Happy Traveling....


2 comments:

Dewi Nielsen said...

Mauu...aku melipir ketempatmu kak :)

Mimi Champy said...

@Dewi Nielsen Ayok kemarilah... :)